Reminiscence Therapy

Menceritakan kenangan yang berkesan tentu menjadi hal yang menyenangkan untuk siapapun tanpa terbatas usia. Mengenang hal hal yang membanggakan bisa meningkatkan harga diri. Mengenang orang orang terkasih mampu memunculkan rasa memiliki dan Pun mengenang hal ne hal menyedihkan kadang juga mampu menumbuhkan rasa syukur bahwa kita ternyata pernah berhasil melaluinya.

Pada era sebelum 1950-an, seorang lansia yang terus menerus mengungkapkan kenangan masa lalu dianggap menunjukkan gejala negatif yang dihubungkan dengan penurunan fungsi mental. Hingga kemudian Erik Erikson memperkenalkan delapan tahap pertumbuhan psikososial yang menunjukkan perkembangan hidup seseorang dari Lahir hingga kematian. Di tahap ke delapan yaitu masa dewasa akhir, dengan tahap integrity vs dispair (merasa lengkap vs kehilangan harapan), pada tahap ini justru menjadi penting bagi seorang lansia untuk melihat masa lalunya dengan penuh kepuasan sebelum ia meninggal. Ide untuk menjadikan reminiscence sebagai kegiatan terapeutik diusulkan oleh Dr. Robert Butler, seorang psikiater spesialis geriatri pada 1963. la mempublikasikan sebuah makalah tentang hal in hal penting seputar life review dan reminiscence therapy.

Definisi Reminiscence Therapy
Reminiscence therapy adalah intervensi non farmakotogis yang mampu meningkatkan harga diri dan memfasilitasi lansia untuk rasa puas dan nyaman ketika mereka mengenang masa lalu. Meskipun membahas tentang masa lalu, namun kegiatan ini mendorong lansia untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan pendengarnya saat ini. Sesi reminiscence bisa dalam bentuk formal, informal, individu (satu terapis satu klien) maupun dalam group setting. Reminiscence therapy sebagai sebuah intervensi dengan mengingat pengataman peristiwa masa lalu dengan tujuan untuk meningkatkan adaptasi ktien saat ini, meningkatkan kuatitas hidup dan kepuasan individu. Dalam perkembangannya, beberapa riset menggunakan reminiscence untuk terapi pada klien lansia yang mengatami depresi, kecemasan, dementia, atau gejala ringan mild cognitif impairment. Atau menggunakan reminiscence therapy sebagai psikoterapi untuk meningkatkan kualitas hidup klien lansia.
Beberapa riset dari 1999 – 2015 melaporkan menggunakan reminiscence therapy untuk 6-12 minggu dengan 1-2 sesi/minggu antara 30-60 menit per sesi dengan kelompok klien terdiri 6-10 orang per kelompok yang tinggal dalam 1 panti.

Manfaat Reminiscence Therapy
Dari beberapa riset, menunjukkan beberapa manfaat reminiscence bagi klien antara lain; menurunkan depresi; menurunkan gejala gangguan prilaku; mengurangi apathy; meningkatkan rasa tertarik, perhatian dan rasa nyaman; meningkatkan interaksi sosial; meningkatkan rasa sehat; meningkatkan kuatitas hidup; serta dapat melatih kognitif.
Di samping manfaat tersebut, reminiscence berpotensi membangkitkan memori yang menyedihkan atau menimbulkan distress. Beberapa klien mungkin bisa menjadikan memori ini menjadi hal yang membangun. Lakukan validasi, berikan motivasi dan distraksi agar klien berfokus pada memori yang menyenangkan. Dalam beberapa kasus, akan lebih baik untuk menghindari topik yang berpotensi menimbulkan distress. Oleh karena itu, diperlukan assesmen sebelum terapis akan membuat program reminiscence therapy untuk lansia, karena reminiscence adalah Person-Centered Therapy, maka terapis perlu mengetahui tentang; profil klien berupa identitas klien, riwayat keluarga, kesenangan dahulu dan sekarang, peristiwa hidup yang berkesan, riwayat pekerjaan, kepercayaan, riwayat trauma untuk menghindari topik tertentu, makanan kesukaan, kebiasaan sehari-hari,serta jejak Rekam Medis: riwayat progres note bila klien di rumah sakit atau nursing home.

Bagaimans Reminiscence Therapy dilakukan ?
Sebelumnya, diperlukan identifikasi topik yang akan digunakan untuk Reminiscence. Sebagai contoh dapat dilakukan identifikasi dengan menggunakan beberapa pertanyaan di bawah ini;
Apakah kenangan yang klien sukai untuk diceritakan?
Apakah peran-peran penting yang pernah dilakukan klien dalam hidupnya? (misal menjadi, istri/suanti, menjadi ibu/ayah)
Apakali yang biasa dibicarakan dengan keluarga dan teman?
Apakah hal-hal menarik yang ingin dibicarakan klien yang berkaitan dengan minat? (misal hobi, pekerjaan, benda-benda seni)
Apakah memori yang menimbulkan distres bila dibicarakan dengan klien? (misal tentang anak karena anak sudah meninggal, dll).

Selanjutnya, seorang Therapis perlu menguasai teknik komunikasi spesifik, yaitu :
Dengarkan klien dan berikan perhatian penuh. Pertahankan senyum dan kontak mata. Perlihatkan bahasa non verbal yang menunjukkan terapis menikmati cerita klien.
Observasi respon verbal dan non verbal klien. Terapis perlu waspada terhadap “overloading atau overstimulation” yang bisa menyebabkan distress, bingung bahkan agitasi.
Jangan men-judge klien. Hindari menyalahkan klen bila daya ingat mereka tidak akurat.
Sabar, rileks dan bangun komunikasi. Jangan tergesa—gesa. Berikan kesempatan klien berproses, mungkin klien butuh waktu untuk sejenak mengingat.
Terapis menggunakan kalimat yang sederhana dalam menyampaikan sesuatu. Sensitif terhadap cerita klien. Ketika muncul memori yang tidak menyenangkan, beri support agar klien bisa melewati proses bercerita.
Mengulang ungkapan klien untuk meruntutkan cerita. lni dipakai untuk klien dengan lompat pikir.
Fleksibel terhadap topik. Ketika klien tiba-tiba tidak mau bercerita sesuai dengan topik yang telah dikontrak.
Bicara dengan lembut dan nada yang bersahabat.
Gunakan humor untuk selingan.
Selalu ingat bahwa tujuan reminiscence adalah untuk kenyamanan, percakapan yang bermakna dan keeratan. Jadi bukanlah sebuah masalah ketika klien keliru dalam menyampaikan cerita, lupa tanggal atau nama, yang penting mereka menikmati terapi. Pilih topik bervariasi sesuai minat klien.

Melibatkan Indera Klien
Sensori bersama dengan Persepsi menjadikan seseorang mengerti apa yang terjadi di sekitar dan memberikan respon yang sesuai. Menggunakan benda—benda untuk merangsang sensori—persepsi
akan memudahkan reminiscence. Misalnya ; menceritakan keluarga dengan memakai foto, menceritakan masa kecil sambil bermain dakon, membawa boneka, menceritakan masa remaja sambil mendengarkan musik era klien remaja, menceritakan cara memasak makanan favorit sambil melihat gambar-gambar masakan, serta dapat diberikan pengharum ruangan atau masase agar klien rileks, juga sangat membantu klien agar menikmati proses terapi.
Lalu bagaimana dengan klien yang mengatam gangguan pada panca inderanya? Untuk klien dengan gangguan ini, therapis dapat;
Klien gangguan pendengaran bisa memakai white board, tulisan, gambar.
Klien gangguan penglihatan memakai benda — benda yang bisa disentuh, bercerita, mendengarkan musik.
Klien yang sensitif terhadap kebisingan bisa dilakukan inciividual reminiscence dalam ruangan yang tenang.
Klien yang cenderung lebih mudah berfokus pada stimulasi taktil (misal : klien demensia suka memilin — milin kain atau memegang-megang benda) bisa memakai benda benda yang bisa disentuh dan dieksplor, misal puzzle lego, benda dengan tekstur berbeda beda.

Group setting untuk Reminiscence therapy.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan terapis dalam melakukan group setting:
Klien dengan minat atau pengalaman yang hampir sama. Namun group juga bisa memberikan pengalaman bervariasi, misal menceritakan budaya jika anggota group berasal dari suku atau negara yang berbeda.
Hindari melibatkan klien yang tidak bisa mengikuti topik, misal topik pengalaman saat SMA padahal ada anggota group yang tidak tamat SMP. Topik menceritakan tentang anak, padahat ada anggota group yang tidak memiliki anak.
Lebih dari 6-8 orang dalam satu group akan mengurangi efektifitas berbagi pengalaman.
Duduk dengan kursi bermeja atau meletakkan benda memorial di meja dapat membantu klien untuk bertahan di tempat duduk. Jaga lingkungan tetap tenang.
Berikan waktu yang sama untuk setiap anggota group bicara.
Jaga sesi 30-45 menit untuk menghindari overstimutasi atau kelelahan.
Bagaimana mengukur Efektifitas Therapy?
Efek dari reminiscence therapy dapat dievaluasi dengan beberapa cara, diantaranya dengan: Evatuasi metalui wawancara oteh profesional (psikiater, psikolog, perawat), ataupun penilaian menggunakan tool sesuai dengan setting awal dilakukan reminiscence seperti menggunakan barthel indeks, MMSE, Engangement scale, Geriatric depression scale.

Reminiscence therapy lebih dari sekedar menceritakan memori. Tapi kenyamanan, percakapan yang bermakna dan keeratan antara klien dengan terapis adalah hasil utama yang diharapkan dari proses reminiscence. Oleh karena itu, sebagai discharge planning untuk keluarga yang merawat klien lansia, ajarkan keluarga untuk metakukan reminiscence sederhana di rumah yaitu dengan mengajak ktien bernostaigia, mengenang cerita berkesan datam hidupnya dari masa ke masa.

masso Inc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *