• Home
  • Kesehatan
  • Menanamkan Perilaku Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut

Menanamkan Perilaku Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut

Kesehatan gigi dan mulut sangat erat hubungannya dengan perilaku. Oleh karena itu, perlu ketegasan orang tua untuk membiasakan anak dengan kegiatan-kegiatan yang positif sejak dini.
Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kebersihan gigi dan mulut adalah faktor perilaku. Perilaku adalah suatu bentuk pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya, khususnya yang menyangkut pengetahuan dan sikap tentang kesehatan, serta tindakan yang berhubungan dengan kesehatan.
Artinya, sejak awal yang berperan besar dalam perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut ini adalah kebiasaan orang terdekat (terutama ibu) yang paling sering berinteraksi. Pada edisi ini, kita akan lebih detail berbicara tentang pemeliharaan kesehatan gigi, yang ditanamkan dari kebiasaan orang tua.
Menurut data Riskesdas 2007 sejumlah 91,1% penduduk umur lebih dari 10 tahun mempunyai kebiasaan menggosok gigi tiap hari, tapi hanya 12,6% yang menggosok gigi sesudah makan pagi dan 28,7% sebelum tidur malam. Artinya, ini memberikan gambaran bahwa sebagian besar penduduk masih belum memiliki perilaku yang benar dalam hal menyikat gigi pada waktu yang tepat. Hal ini bisa berdampak pada kesehatan gigi dan mulut yang kurang baik.

Anak Rentan Risiko Karies

karies pada anak

Gigi tersusun dari mahkota gigi (korona), leher gigi (kolum), dan akar gigi (radiks). Korona merupakan bagian yang tampak di atas gusi dan memiliki tiga lapisan. Lapisan paling luar adalah lapisan email yang merupakan lapisan yang paling keras. Di bawah lapisan email terdapat tulang gigi atau dentin yang di dalamnya terdapat saraf dan pembuluh darah. Lapisan terdalam terdapat rongga gigi atau pulpa yang merupakan bagian antara korona dan radiks. Leher gigi atau kolum merupakan bagian yang berada di dalam gusi. Akar gigi atau radiks merupakan bagian yang tertanam pada tulang rahang. Akar gigi melekat pada tulang rahang dengan perantara semen gigi. Semen gigi melapisi akar gigi dan membantu menahan gigi agar tetap melekat pada gusi.
Pada tingkat perkembangan bayi, gigi susu mulai tumbuh sekitar usia 5 bulan. Pada usia 5-6 butan, makanan yang padat mulai dapat diterima mulut. Pada usia 6-8 bulan, bayi sudah mulai mengunyah. Saat bayi berusia 18 bulan sampai 6 tahun, dua puluh gigi susu telah ada. Pada usia tahun, anak mulai menggosok gigi dan belajar praktik higiene dari orang tua. Jika hygiene gigi diabaikan, karies gigi bisa jadi masalah.
Pada rentang usia 6 sampai 12 tahun, gigi susu mulai digantikan dengan gigi permanen. Gigi permanen terdapat pada usia 12 tahun, kecuali geraham kedua dan ketiga. Pilihan makanan tertentu terlibat dalam usia ini. Masalah kesehatan yang sangat penting pada usia ini adalah karies dan ketidakteraturan gigi. Pada tingkat perkembangan ini peran orang tua juga diperlukan agar karies tidak terjadi pada gigi permanen. Pada usia 12 sampai 18 tahun, semua gigi permanen telah tumbuh. Menjaga kebersihan mulut dan nutrisi yang baik diperlukan untuk menghindari masalah di masa yang akan datang.
Karies gigi adalah sebuah penyakit infeksi yang merusak strukur gigi. Penyakit ini menyebabkan gigi berlubang yang jika tidak ditangani akan menyebabkan nyeri, infeksi, berbagai kasus berbahaya, dan bahkan kematian. Terdapat beberapa hal yang mendukung terjadinya karies gigi, yaitu permukaan gigi, bakteri kariogenik (penyebab karies), karbohidrat yang difermentasikan, dan waktu.
Anatomi gigi juga berpengaruh dalam pembentukan karies. Karies juga sering terjadi pada tempat yang sering terselip makanan. Beberapa faktor yang dianggap sebagai faktor risiko adalah pengalaman karies, penggunaan fluor, oral higiene, jumlah bakteri, saliva, dan pola makan.
Sebagaimana diketahui bahwa salah satu komponen dalam pembentukan karies adalah plak. Maka membersihkan plak dari permukaan gigi dapat mengurangi risiko karies. Pemeriksaan gigi rutin juga dapat membantu mendeteksi dan memonitor masalah gigi yang berpotensi menjadi karies. Disinilah peran orang tua sangat dibutuhkan untuk meningkatkan oral higiene anak.
Jumlah bakteri juga berpengaruh terhadap pembentukan karies gigi. Bayi yang memiliki jumlah Streptococcus mutans yang banyak, maka pada usia 2-3 tahun, risiko karies akan lebih tinggi pada gigi susunya. Walaupun lactobacillus bukan merupakan penyebab utama karies, tetapi pada orang yang mengonsumsi karbohidrat yang banyak, bakteri ini ditemukan meningkat.
Selain mempunyai efek buffer, saliva juga berguna untuk membersihkan sisa-sisa makanan di dalam mulut. Pada anak-anak, aliran saliva meningkat sampai anak tersebut berusia 10 tahun, namun hanya terjadi peningkatan sedikit setelah dewasa. Aktivitas karies akan meningkat secara signifikan pada individu yang fungsi salivanya berkurang.
Terkait pengaruh pola makan dalam proses karies, setiap kali seseorang mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung karbohidrat, maka asam akan diproduksi oleh beberapa bakteri penyebab karies di rongga mulut, sehingga terjadi demineralisasi yang berlangsung selama 20-30 menit setelah makan. Di antara periode makan, saliva akan menetralisir asam dan membantu remineralisasi. Namun, enamel gigi tidak akan mempunyai kesempatan untuk melakukan remineralisasi dengan sempurna apabila makanan dan minuman berkarbonat terlalu sering dikonsumsi, sehingga terjadi karies. Selain faktor tersebut, terdapat pula faktor risiko demografi yang ikut menentukan risiko karies seperti umur, jenis kelamin, sosial ekonomi, dan lain-lain.
Selain faktor risiko diatas, dalam laporan penelitian lainnya, bayi yang menyusui sepanjang malam juga mengalami peningkatan risiko karies. Melekatnya puting susu ibu sepanjang malam hari di mulut bayi akan menyebabkan ASI stagnasi lama pada permukaan gigi. Stagnasi lama yang diikuti oleh penurunan aliran saliva dan berkurangnya aktivitas penelanan memungkinkan bakteri-bakteri melakukan fermentasi terhadap laktosa. Sehubungan dengan penurunan aliran saliva yang berfungsi sebagai buffer maka akan banyak asam yang terbentuk yang nantinya dapat menyebabkan demineralisasi pada email yang merupakan proses awal terjadinya karies.
Posisi pemberian ASI yang salah juga menjadi pemicu terjadinya karies pada anak. Kebiasaan ibu menyusui anak dengan posisi tidur dapat menyebabkan ibu juga ikut tertidur, sehingga ibu tidak dapat mengontrol pemberian ASI pada anaknya. Posisi menyusui sembari tidur menyebabkan tergenangnya ASI ketika anak sudah tertidur tetapi puting susu ibu masih berada di dalam rongga mulut anak.
Pemberian minuman melalui botol dot juga bisa menjadi faktor risiko terjadinya karies dini, terutama bila yang diberikan berupa susu formula, susu sapi, dan sari buah yang mengandung karbohirat jenis sukrosa atau tambahan gula, serta membiarkan anak mengedot selama anak tidur. Sukrosa atau dalam kehidupan ,sehari-hari dikenal sebagai gula pasir, adalah jenis karbohidrat yang bersifat paling kariogenik. Karbohidrat jenis tersebut sering ditambahkan pada minuman P yang dimasukkan kedalam botol dot. Oleh karena itu, sukrosa diidentifikasi sebagai jenis karbohidrat yang merupakan penyebab utama terjadinya karies.

Mulai usia berapa?

ajari anak gosok gigi sejak dini

Pada usia 2 tahun terjadi proses identifikasi yaitu proses mengadopsi sifat, sikap, pandangan orang lain dan dijadikan sifat, sikap dan pandangannya sendiri. Anak akan melakukan segala sesuatu dengan cara menirunya. Orang tua akan menjadi contoh dan panutan untuk ditiru. Oleh karena itu, pada masa ini perlu ketegasan orang tua untuk membiasakan anak dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Usia ini adalah saat paling baik untuk mulai mengajarkan anak menggunakan sikat gigi. Jangan lupa, lakukan dengan membuat suasana yang menyenangkan untuk anak.
Sebaiknya ketika anak menyikat giginya, orang tua mengawasi apakah sudah dibersihkan dengan baik dan benar. Sediakan sikat gigi dengan ukuran yang sesuai dengan umur anak dan pasta gigi yang mengandung fluoride. Edukasikan kepada anak untuk menyikat gigi minimal dua kali sehari yaitu pagi hari sebelum sarapan dan sebelum tidur malam.
Selain itu, sebaiknya memberitahu apa saja makanan dan minuman yang dapat merusak gigi dan upayakan agar tidak terlalu sering mengonsumsi makanan atau minuman tersebut. Biasakan anak untuk menyukai sayuran dan buah-buahan yang dapat mendukung pertumbuhan tulang dan giginya. Aktif memeriksa gigi dan mulut anak seperti melihat adanya gigi yang berlubang, karang gigi, gigi yang goyang, dan pertumbuhan gigi yang tidak normal (gigi tumbuh berlapis, gigi berjejal, dan lainnya).
Periksakan gigi anak ke dokter gigi sejak dini yaitu mulai usia 2 tahun, secara rutin yaitu 6 bulan sekali, bukan hanya membawa anak ke dokter gigi karena ada keluhan, tapi untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan gigi serta merawatnya jika dipedukan.

masso Inc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *