• Home
  • Kesehatan
  • Memahami Kesehatan Mental Anak dan Remaja di Daerah Bencana

Memahami Kesehatan Mental Anak dan Remaja di Daerah Bencana

Kita hidup dalam era yang banyak terkena dampak krisis, baik berupa krisis yang alamiah seperti bencana, maupun krisis yang dibuat oleh manusia. Setiap tahunnya, jutaan orang diharapkan pada kejadian traumatik yang tidak dapat mereka atasi sendiri. Orang cenderung mencari pelayanan kesehatan jiwa berupa unit pelayanan kesehatan primer di lingkungannya. Beberapa kejadian yang mungkin menimbulkan krisis termasuk:

1.   bencana/ kehancuran;

2.   masalah kesehatan dan penyakit;

3.   kemunduran ekonomi ;

4.   kecelakaan ;

5.   masalah hukum;

6.   kehilangan.

Menurut World Health Organization (WHO), sehat atau sakitnya mental bukan hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya penyakit mental. Kesehatan jiwa dinyatakan sebagai “kondisi yang digambarkan dengan adanya perasaan bahagia dan sejahtera pada seseorang, yang disertai dengan kesadaran dan pemahaman atas potensi dirinya sendiri, kemampuan untuk beradaptasi terhadap tekanan dalam kehidupan, produktif, dan mampu memberikan kontribusi pada komunitasnya”. Kesehatan jiwa pada daerah bencana, merupakan suatu kondisi yang spesifik karena bencana merupakan suatu keadaan yang tidak normal, yang berada di luar jangkauan tekanan hidup yang biasa dihadapi.

Pada umumnya, rakyat berada dalam keadaan tidak sejahtera setelah kejadian bencana. Oleh karena itu, kita membutuhkan pemahaman mengenai kesehatan jiwa terutama pada anak dan remaja yang berada di daerah bencana. Bagian ini membahas berbagai usaha untuk mendukung kesehatan jiwa anak dan remaja di daerah bencana, terutama yang berhubungan dengan peningkatan kapasitas mental anak dan remaja agar dapat melakukan kembali fungsi sehari-hari mereka dan mencapai perkembangan yang optimal.

Bencana dapat digolongkan menjadi bencana alam dan bencana buatan (oleh manusia). Bencana alam meliputi kebakaran, banjir, angin ribut, gempa, longsor, tsunami, dan lain-lain. Bencana buatan seperti konflik atau berkurangnya kualitas lngkungan akibat pcmbangunan, misainya bencana lumpur Sidoarjo di mana faktor alam tercetus oleh usaha manusia.

Sebuah bencana, terutama bencana besar seperti tsunami, banjir bandang ataupun gempa bumi, dapat menjadi pengalaman yang sangat menakutkan, mengancam nyawa dan memisahkan keluarga. Bencana juga dapat mengakibatkan kehilangan orang yang dicintai (misalnya orangtua atau saudara), hilangnya fungsi anggota tubuh, hancurnya lingkungan dan hilangnya sistem dukungan sosial bagi anak,  misalnya sekolah, tempat bermain, tempat tinggal dsb. Keluarga juga dapat kehilangan mata pencaharian mereka.

Apa itu Krisis?

Bencana dapat menimbulkan pengalaman “krisis”. Kata krisis, stres, dan trauma seringkali disalahgunakan akibat kurangnya pemahaman tentang arti dan batasan ketiga istilah tersebut, Kami menjabarkan krisis sebagai “keadaan gangguan keseimbangan psikologis yang timbul tiba-tiba,yang diakibatkan oleh tekanan yang besar, melampaui kemampuan seseorang untuk mengatasinya, dan menimbulkan gangguan fungsi. Kondisi tersebut merupakan reaksi subjektif terhadap beban pengalaman hidup yang mengganggu keseimbangan dan kemampuan seseorang untuk menyelesaikan permasalahannya atau berfungsi sebagaimana mestinya.” Reaksi masing-masing orang bersifat unik dan dipengaruhi oleh kepribadian, temperamen, karakter, kemampuan menyelesaikan permasalahan, daya adaptasi, sistern dukungan, dan durasi saat mengalami stres.

Sebuah krisis juga dipandang sebagai respon subjektif terhadap suatu kejadian hidup yang dianggap berbahaya, mengancam atau sangat mengesalkan, yang tidak dapat diselesaikan dengan menggunakan penyelesaian permasahan yang biasa digunakan oleh orang itu. Krisis dapat dipandang sebagai kesempatan untuk pertumbuhan pribadi, tetapi dapat pula dipandang sebagai sesuatu yang berbahaya dan mengancam. Suatu kejadian traumatis yang berat seperti bencana dapat menyebabkan krisis.

Sifat Krisis

Krisis merujuk pada “guncangan dari keseimbangan” dan biasanya terdiri dari lima bagian, yaitu:

(1) kejadian yang menakutkan;

(2) keadaan yang rentan menyebabkan ketidakseimbangan;

(3) faktor pencetus;

(4) keadaan krisis aktif yang dirasakan oleh orang tersebut; 

(5) penyelesaian krisisnya.

Berdasarkan sifatnya, krisis merupakan suatu kejadian yang sangat berat. Namun, dampak krisis pada tiap orang bergantung pada sudut pandang orang tersebut terhadap kejadian yang dialaminya. Krisis terjadi ketika suatu kejadian yang penuh tekanan terjadi melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasi keadaannya. Beberapa anak dan remaja yang mengalami bencana dapat terpisah dari lingkungannya, kehilangan suasana kelekatan dan keakraban dengan orang lain, serta mengalami kesulitan dalarn menemukan arti kehidupan.

Faktor-faktor di bawah ini harus dipertimbangkan ketika mengatasi suatu krisis:

1.Setiap manusia, pada satu waktu dalam hidupnya, akan mengalami stres atau peristiwa traumatis  yang tidak selalu bersifat mengganggu atau berbahaya secara emosional.

2.Keseimbangan adalah keadaan alami yang dicari oleh semua orang dan kadangkala trauma mengakibatkan keadaan ketidakseimbangan.

3.Dibutuhkan cara penyelesaian permasalahan yang belum diketahui sebelumnya atau sumber daya baru untuk mengatasi kejadian traumatis tersebut.

4.Lamanya suatu krisis bergantung dari kejadian pemicu, pola orang teisebut dalam menanggapi, dan sumber daya yang tersedia.

5.Keterampilan dalam mengelola perasaan, pikiran, dan perilaku harus dimiliki selama melalui fase krisis untuk mengatasinya.

masso Inc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *