• Home
  • Kesehatan
  • Avoidant Personality Disorder, si Penghindar Interaksi Sosial

Avoidant Personality Disorder, si Penghindar Interaksi Sosial

Avoidant Personality Disorder

Orang dengan gangguan ini rentan terhadap gangguan dysthymic kronis dan depresi mayor serta kecemasan berat dan dengan komorbid gangguan kepribadian dependen, gangguan kepribadian ambang. Kepribadian menghindar (avoidant) juga berkomorbid dengan dengan diagnosis Aksis I yaitu depresi dan fobia sosial menyeluruh.

Disebabkan Banyak Faktor
Avoidant personality disorder (APD) bisa disebabkan oleh banyak faktor, akibat kombinasi dari faktor biologis (sifat yang diturunkan), sosial (cara individu berinteraksi di masa perkembangan) dan psikologis (emosi, kepribadian dan temperamen) yang terbentuk dalam suatu lingkungan.
Secara teori kognitif, orang dengan APD cenderung memiliki keyakinan yang tidak sehat tentang keberhargaan dirinya sendiri. Hal ini akibat dari pengalaman ditolak pada masa awal
kehidupannya, biasanya oleh keluarga, atau orang tua.
Anak-anak yang mengalami penolakan dari orang tuanya akan berpikir bahwa “Mungkin saya adalah orang yang buruk bagi ibu saya, sehingga ibu saya memperlakukan saya seburuk ini” atau mungkin, “Jika orang tua saya saja tidak menyukai saya, bagaimana dengan orang lain?”.
Dari pemikiran-pemikiran seperti inilah yang membuat mereka menganggap bahwa mereka akan ditolak dan tidak diterima oleh orang lain. Hal ini mengakibatkan mereka menarik diri mereka dari interaksi sosial dan takut terhadap kritik serta penolakan dari orang lain.
Selain dari pandangan psikologi kognitif, para ahli psikologi humanistik melihat bahwa orang yang menderita APD cenderung melihat diri mereka sebagai seseorang yang tidak memiliki kemampuan dan tidak punya kompetensi baik dalam bidang akademis maupun datam bidang pekerjaan. Dia memandang bahwa orang lain tidak tertarik dengannya, cenderung mengkritik, atau menuntut.
Mereka merasa bahwa “saya adalah seseorang tidak baik, tidak berharga dan orang yang tidak dicintai.” Lebih jauh lagi, mereka akan mempercayai hal-hal, misalnya “jika orang Lain terlalu dekat dengan saya, mereka akan menemukan diri saya yang sebenarnya dan mereka pasti akan menolak saya karena hal tersebut tidak bisa mereka terima”. Dan selanjutnya mereka akan menginstruksikan diri mereka sendiri untuk tidak mengambil resiko, maka mereka berpikir “sebaiknya saya menghindari situasi-situasi yang kemungkinan akan berdampak tidak menyenangkan bagi saya”.
Langkah pertama yang bisa dilakukan untuk menghindari gangguan ini adalah dengan cara mencari informasi tentang ciri-ciri atau tanda-tanda awal munculnya Avoidont Personality Disorder. Apabila terdeteksi bahwa orang yang bersangkutan memiliki tanda-tanda awal dari gangguan ini, maka bisa dilakukan penanganan dengan cara membekali orang tersebut keterampilan sosial, dengan menggunakan kemampuan yang dirasa kompeten oleh orang tersebut untuk menjadi media bersosialisasi. Misalnya pelatihan keterampilan sosial dengan olahraga, kesenian, atau dengan musik, dan menggunakan kemampuan-kemampuan tersebut untuk berinteraksi dengan orang lain,
Untuk mencegah memburuknya gangguan Avoiciont Personality Disorder dapat ditakukan dengan terapi kejiwaan dan terapi bicara. Salah satunya adalah terapi kognitif dan perilaku (Cognitive Behavior Therapy/CBT), yang membantu individu mengenal sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan pikiran negatif dan mengembalikannya secara positif. Terapi ini bertujuan untuk menumbuhkan kemampuan adaptasi terhadap kondisinya dan meringankan gejala yang dialami.
Terapi kognitif dan perilaku telah terbukti bermanfaat bagi orang-orang dengan gangguan kepribadian avoidant. Orang yang menerima terapi ini menunjukkan peningkatan frekuensi dan berbagai kontak sosial, penurunan perilaku menghindar, dan meningkatkan kenyamanan dan kepuasan di dalam kegiatan sosial. Terapi kelompok dapat membantu individu mengerti efek kepekaan mereka terhadap penolakan pada diri mereka sendiri dan orang lain. Namun psikoterapi ini juga perlu disertai dengan pengobatan jika terdapat kondisi penyerta yang dapat membuat gejala bertambah serius seperti depresi dan gangguan kecemasan.
Manfaat penanganan dalam jangka panjang dari avoidant personality disorder adalah meningkatkan kemampuan pengidap untuk berinteraksi dengan orang lain, serta mencegah timbulnya gangguan kejiwaan sekunder dan isolasi total akibat perkembangan gangguan kepribadian ini.

Ada hal-hal yang mungkin dialami pengidap avoidant personality disorder, misalnya:

  1. Terabaikan
    Pertumbuhan yang tanpa disertai kasih sayang dari orang terpenting dalam hidup, membuatnya sukar bersikap seperti kebanyakan anak seusianya. Itu dikarenakan saat ia membutuhkan dampingan, bimbingan dan dimanjakan, justru tak diacuhkan. Maka, menyendiri dan tertutup adalah pilihan yang membuatnya lebih tenang, tanpa membebani orang lain.
  2. Kritik berlebihan
    Orang tua haruslah memiliki cara mendidik yang baik. Bersikap tegas itu bagus, tapi mengingatkan anak dengan cara yang lembut biasanya lebih efisien, asal dengan batasan, agar anak tidak menjadi manja. Perlu dipahami bahwa berkata kasar pada anak sangat rentan mengganggu proses tumbuh kembang mentalnya, karena pada usia tersebut, anak masih belum matang mentalnya. Dia akan menjadi sering ketakutan, dan terpukul dengan omongan-omongan kasar orang tuanya. Orang tua juga harus mampu memotivasi dan menghargai apa yang dipilih oleh anak sebagai acuan menuju cita-citanya.
  3. Pencapaian
    Ditolak di dalam studinya, dipecat dalam pekerjaannya, menganggur dalam waktu lama, dan skill yang tidak pernah dihargai oleh siapa pun bahkan oleh keluarganya sendiri, berpengaruh besar terhadap keputusasaan yang amat mendalam. Ini membuatnya sulit untuk bangkit kembali.
  4. Penampilan fisik
    Penampilan fisik yang kurang cantik atau kurang tampan, apalagi mendapati kecacatan dalam diri seseorang tentu membuatnya berpikir banyak orang yang menolaknya bahkan hanya untuk sekedar berteman.
  5. Pengalaman negatif, pelecehan, atau kekerasan di masa lalu
    Orang yang dari awalnya sudah mempunyai kepercayaan diri kurang, akan bertambah surut nyalinya untuk bertindak sama. la memilih diam dan menjauh agar terhindar dari pengulangan pengalaman negatif tersebut. Apalagi jika terkait dengan masa lalu yang membuatnya harus mengingat kembali sebuah kejadian yang terus-terus menghantuinya. Kekerasan dan pelecehan seksual bisa menyebabkan seseorang mengurung diri rapat-rapat bahkan dengan keluarganya

CIRI-CIRI AVOIDANT PERSONALITY DISORDER
Selain perilaku isolasi dan perasaan rendah diri, seseorang yang mengalami avoiclant personality disorder memiliki minimal empat ciri dari Kriteria Gangguan Kepribadian Menghindar dalam DSM IV TR yaitu:

  • Menghindari kontak interpersonal karena takut terhadap kritikan atau penolakan.
  • Keengganan untuk menjalin hubungan dengan orang lain kecuali dirinya pasti akan disukai.
  • Membatasi diri dalam hubungan yang lebih intim karena takut dipermalukan atau diperolok.
  • Penuh kekhawatiran akan dikritik atau ditolak.
  • Merasa tidak adekuat.
  • Merasa rendah diri.
  • Kengganan ekstrim untuk mencoba hal-hal baru karena takut dipermalukan.

Mereka memiliki perasaan rendah diri (inferiority complex), tidak percaya diri, takut untuk berbicara di depan publik atau meminta sesuatu dari orang Lain. Mereka seringkali mensalahartikan komentar dari orang lain sebagai menghina atau mempermalukan dirinya. Oleh karena itu, individu dengan gangguan kepribadian menghindar biasanya tidak memiliki teman dekat.

masso Inc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *