Bencana dan Kesehatan Jiwa: Beberapa Aktivitas untuk Mengelola Stres pada Anak dan Remaja Pascabencana

Stres dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan anak dan remaja. Oleh karena itu. stres perlu diatasi dan ditangani secara efektif untuk mengurangi dampak yang tidak diinginkan. Kenalilah stres sebagai sesuatu yang dapat diatasi, dikendalikan, dan ditaklukkan. Buatlah stres berguna dengan beberapa strategi yang memanfaatkan keadaan stres tersebut dan dapat melepaskan tambahan hormon adrenalin untuk membantu kita berjuang. Stres dapat menjadi menyenangkan bila mendorong seseorang untuk bersaing/ menyelesaikan tugas tepat waktu atau dapat menjadi penghancur/ fatal bila menyebabkan penderitaan, ketidakbahagiaan dan depresi.

Beberapa Aktivitas yang Dapat Membantu

-Latihan fisik (dalam berbagai bentuk): berjalan, berlari, berenang, bersepeda, atau bermain dapat membantu anak dan remaja beradaptasi dengan stres. Kemudian, efek dari latihan fisik ini, seperti relaksasi dapat meningkatkan rasa percaya diri dan mengalihkan perhatian mereka beberapa saat untuk beradaptasi lebih baik.

-Memperluas pertemanan dan dukungan sosial: Anak dan remaja membutuhkan dukungan dari orangtua dan lingkungan. Beberapa dukungan dapat digunakan sebagai strategi untuk mengurangi dampak stres. Oleh karena itu, kita harus menjaga hubungan dekat dengan teman atau orang dewasa lainnya yang merupakan pendengar yang baik dan membangun kepercayaan.

-Konseling: adalah cara lain untuk rnengatasi stres. Selain itu juga, melalui konseling, anak yang lebih besar dan remaja dapat mengenali kekuatan dan kelemahan mereka dan pola reaksi yang diperlukan untuk merubah perilaku mereka. Orangtua juga mendapatkan keuntungan dari konseling untuk membantu anak dan remaja mereka.

– Pertolongan pertama psikologis/ Psychological First Aid.

– Peregangan. Ketika Anda sedang dibawah tekanan, berdirilah pada ujung jari kaki dan regangkanlah tubuh Anda. Buatlah posisi seakan-akan anda akan menggenggam sesuatu yang berada beberapa sentimeter di atas jangkauan Anda. Pertahankan posisi balet ini selama 5 detik lalu rileks kembali.

– Tertawalah. Tertawalah sekeras mungkin, baca komik, nonton film kartun, bercanda dengan teman. Hal tersebut dapat merupakan jalan keluar sementara untuk mengatasi stres.

-Tarik napas panjang. Cara bernafas yang benar dapat mengurangi stres. Tarik keluarkan pelan-pelan, konsentrasilah pada udara yang meninggalkan paru-paru. Perlambatlah napas Anda, yang ideal adalah tarik napas selama 2 detik dan buang napas selama 5 detik. Lakukan hal tersebut sebanyak 5 kali pada pagi hari dan 5 kali pada sore hari.

-Dengarkan musik. Musik selalu mempunyai efek yang nnenenangkan. Pilihlah musik kesukaan anda, baik itu bertema, pop, dangdut, ataupun jazz.

– Nikmati matahari pagi. Rasakan sinar matahari pagi meresap ke dalam setiap pori-pori tubuh anda, rasakan perasaan luar biasa yang dibawanya.

-Lakukan yoga untuk diri Anda. Yoga selalu dianggap dapat mengurangi stres. Baca buku panduan latihan yoga atau pergilah ke guru yoga. Mulailah berlatih Yoga 2 jam pada saat senggang.

-Latihlah angkat bahu. Angkat bahu, sebagaimana yang dilakukan seseorang yang tidak tahu dan seseorang yang tidak peduli. Kapan saja Anda merasakan stres akan menguasai Anda, putarlah leher Anda ke kiri dan ke kanan beberapa kali. Lanjutkan dengan mengangkat bahu Anda. Kendorkanlah otot-otot Anda. Yakinkan dari dasar hati Anda bahwa Anda tidak peduli.

-Makan sehat. Makanlah lebih banyak makanan yang berserat (misalnya sayuran, buah-buahan). Penelitian menunjukkan bahwa makanan berserat dapat menurunkan tingkat stres.

– Kurangi bicara, perbanyak mendengarkan. Cara ini merupakan obat kuno. Mendengarkan dapat menghalau stres, membuat Anda lebih populer, lebih berpengetahuan, lebih sensitif, dan menjadi orang yang lebih menyenangkan. Bukankah ini merupakan gagasan yang hebat? Hal ini berdampak positif dan tidak memerlukan banyak usaha.

-Hitung anugerah Anda. Tidak ada cara lain yang lebih baik untuk menghalau stres. Tak seorangpun mengalami kejadian buruk dalam seluruh hidupnya. Buatlah daftar hal yang baik dalam hidup anda dan lihatlah daftar tersebut tiap kali anda merasa stres.

– Bandingkan diri anda dengan diri anda sendiri dan lihatlah perubahannya. Jika Anda ingin menikmati hidup, bandingkanlah diri Anda sendiri terlebih dahulu, bukan dengan orang lain. Jika Anda ingin membandingkan diri Anda dengan orang lain, bandingkanlah dengan orang lain yang kurang beruntung untuk mengembangkan kepercayaan diri.

-Jangan mengerjakan apapun, duduk saja dengan santai. Hal ini tidak membutuhkan usaha apapun dari anda, seperti halnya tidak ada sesuatupun yang tetap buruk selamanya. Penerimaan dari situasi tersebut akan mengurangi stres.

-Ekspresikan stres kita, biarkan emosinya mengalir. Kemarahan, depresi, ketakutan, dan frustasi yang Anda alami, perlu “mengalir” ke luar dari diri anda melalui tulisan, pembicaraan, puisi, dan aktivitas fisik lainnya yang nyata. Dengan begitu, pikiran menjadi lebih terang dan tubuh menjadi lebih bertenaga. Anda akan dapat menerima dan memahami situasi dan kesempatan secara lebih jelas, sehingga pilihan serta keputusan anda akan lebih bijaksana.

-Bertanggung jawab terhadap hidup Anda. Yakinlah bahwa “Saya selalu bertanggung jawab terhadap hidup saya”. Sebagian dari perasaan stres datang dari bagaimana anda bereaksi terhadap hal yang sedang terjadi atau tidak terjadi.

1. Bereaksilah secara terampil terhadap stres, misalnya setegas mungkin.

2. Perbaiki reaksi terhadap suatu kejadian.

3. Kurangilah tuntutan terhadap diri sendiri.

4. Tingkatkanlah kapasitas untuk mengatasi kesukaran.

5. Bereaksi menghadapi stres dengan terampil misalnya secara asertif dapat:

a. Meningkatkan cara bereaksi terhadap stres.

b .Menurunkan tuntutan terhadap diri.

c. Meningkatkan kemampuan untuk menangani stres.

Mencegah Burn-Out

petugas yang mengalami burnout

Burn-out adalah kelelahan atau kejenuhan berat akibat bekerja berlebihan. Hal ini dapat dicegah dengan memperhatikan kebutuhan diri dan membatasi membantu orang lain. Cara ini bertanggung jawab, tidak menunggu diri sendiri menjadi stres, kelelahan, dan juga tidak mengabaikan kebutuhan kita sendiri. Sebagai analogi, saat di pesawat kita diminta untuk memakai masker oksigen kita terlebih dulu sebelum menolong orang lain. Jika kita membantu orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri, kita akan menjadi penolong yang tidak efektif dan akan menjadi lebih mudah mengalami masalah di kemudian hari.

Beberapa poin penting untuk perawatan diri sendiri untuk mencegah burn-out meliputi:

  • Memperhatikan kesehatan dan kecukupan nutrisi diri sendiri
  • Membuat batasan, mendelegasikan tugas, belajar untuk berkata “tidak”
  • Istirahat yang cukup
  • Menemukan kesenangan
  • Meningkatkan spiritualitas dan kemampuan untuk memaknai hidup
  • Membuat jurnal/ buku harian
  • Menghindari kafein, rokok, alkohol, dan zat psikoaktif lainnya
  • Mengenali waktu untuk berhenti saat lapar, marah, kesepian

Bencana dan Kesehatan Jiwa: Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengkomunikasikan Berbagai Isu Terkait Bencana pada Anak dan Remaja

Berbicara kepada anak dan remaja tentang peristiwa yang menyedihkan dan mengerikan bukanlah hal yang mudah, tetapi seringkali anak dan remaja memerlukan orang dewasa untuk menuntun dan menjelaskan apa yang terjadi. Beberapa hal yang dapat membantu:

1.  Ciptakan suasana terbuka dan suportif sehingga anak dan remaja bebas bertanya. Pada saat yang sama, jangan memaksa anak dan remaja ketika mereka belum siap untuk membicarakan hal-hal tertentu.

2.  Beri anak dan remaja informasi dan jawaban yang jujur. Hal ini akan berpengaruh pada tingkat kepercayaan dan keyakinan terhadap orangtua di masa mendatang.

3.  Gunakan kata-kata, bahasa dan konsep yang dapat dipahami anak dan remaja. Sesuaikan penjelasan dengan tingkat usia dan tahap perkembangan.

4.  Bersiap untuk mengulang informasi dan penjelasan beberapa kali. Beberapa informasi mungkin sulit diterima atau dipahami oleh anak. Berulang kali bertanya hal yang sama merupakan salah satu cara anak dan remaja untuk memperoleh keyakinan.

5.  Mengakui dan mencoba mengerti pikiran, perasaan dan reaksi anak dan remaja. Buatlah mereka mengetahui bahwa anda peduli dengan apa yang dipikirkan dan dirasakannya.

6.  Ingatlah bahwa anak dan remaja cenderung berpikir menurut pengalamannya terhadap peristiwa yang mereka hadapi. Sama halnya ketika mereka mendengar pengalaman suatu peristiwa yang mengerikan walaupun peristiwa tersebut terjadi di tempat yang jauh.

7.  Yakinkan anak dan remaja tapi jangan membuat janji-janji yang tidak masuk akal. Yakinkan anak bahwa mereka aman di penampungan, rumah atau sekolah. Namun, jangan menjanjikan bahwa tidak akan terjadi bencana atau bahwa semua orang selamat.

8.  Bantu anak dan remaja menemukan cara untuk mengekspresikan diri. Beberapa anak mungkin tidak menceritakan pikiran, perasaan dan ketakutannya. Mereka mungkin lebih nyaman bila menggambar, bermain dengan mainan atau menulis cerita dan puisi.

9.  Biarkan anak dan remaja mengetahui bahwa banyak orang mau membantu keluarga yang tertimpa bencana. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk menunjukkan pada anak bahwa bila sesuatu yang menakutkan terjadi, ada orang-orang yang akan membantu.

10.Anak dan remaja belajar dengan mengamati orangtua, guru dan lingkungan sekitarnya. Mereka sangat tertarik mengetahui bagaimana respons orang dewasa terhadap bencana. Mereka juga mendengarkan pembicaraan Anda dengan orang dewasa lainnya.

11.Jangan biarkan anak, terutama anak yang lebih kecil, terlalu banyak melihat TV yang menayangkan gambar-gambar menakutkan. Pengulangan gambar-gambar tersebut akan membuat anak menjadi tidak nyaman, cemas dan bingung.

12.Anak dan remaja yang sudah pernah mengalami peristiwa yang menakutkan, mengerikan atau kehilangan biasanya lebih sensitif sehingga akan bereaksi lebih kuat atau berkepanjangan terhadap berita atau gambar tentang bencana. Anak ini membutuhkan dukungan dan perhatian yang lebih besar.

13.Perhatikan munculnya tanda-tanda fisik termasuk sakit kepala dan sakit perut. Banyak anak-anak dan remaja yang mengekspresikan kecemasan dan kesedihannya lewat keluhan fisik. Peningkatan tanda-tanda ini tanpa penyebab medis yang jelas mungkin merupakan tanda seorang anak merasa cemas atau depresi.

14. Anak dan remaja yang sering bertanya dan menunjukkan perhatian besar terhadap bencana harus dievaluasi oleh tenaga kesehatan profesional. Tanda lain bahwa mereka lebih membutuhkan bantuan adalah: Adanya gangguan tidur. Pikiran dan kecemasan yang terus menerus. Ketakutan berulang tentang kematian, ditinggal orangtua atau pergi ke sekolah. Bila gangguan terus berlangsung, minta dokter atau konselor sekolah untuk merujuk anak.

15.Banyak anak semata-mata ingin selalu berada di masa “anak-anak”. Mereka tidak mau memikirkan tentang apa yang terjadi di luar dunia bermainnya. Mereka lebih suka bermain bola, memanjat pohon atau meluncur.

16.Libatkan anak dan remaja dalam menyusun rencana apa yang dapat diperbuat jika terjadi bencana sesuai dengan bencana apa yang mengancamnya, misalnya memperhatikan air laut; bila air laut turun secara berlebihan, segera lari ke tempat yang lebih tinggi.

17.Tiap bentuk bencana memiliki aspek-aspek berbeda yang dapat menimbulkan keprihatinan pada anak. Misalnya kekhawatiran akan bencana alam akar berbeda dengan bencana konflik bersenjata. Bantu anak untuk mengatasi keprihatin-nnya sesuai dengan aspek-aspek khusus pada bencana yang dialami/ mengancamnya.

18.Jangan menertawakan, meremehkan, atau menyalahkan sudut pandang anak dan remaja. Beri mereka penjelasan dengan sabar untuk memahami mengapa bencana terjadi, dan bahwa bencana bukan salah mereka.

Membangun Resiliensi pada Anak dan Remaja Pascabencana Melalui Aktivitas Bermain, Menggambar, dan Bercerita

permainan merupakan salah satu sarana untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan.

Bermain, menggambar, dan bercerita, adalah sarana bagi anak untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka. Anak memiliki kemampuan alami untuk memahami dan menguasai suatu masalah melalui imajinasi mereka dan kegiatan yang menyenangkan mereka sesuai dengan tahap perkembangannya. Mereka perlu merasa aman untuk mengeksplorasi pikiran, perasaan, dan pengalaman melalui aktivitas bermain, cerita, dan menggambar. Beberapa intervensi bisa lebih banyak bahaya daripada keuntungannya, misalnya jika orang dewasa memaksa anak melakukan hal-hal yang tidak ingin mereka lakukan atau memaksa anak memproses hal-hal yang belum siap untuk mereka proses.

Anak secara naluriah suka bermain, menggambar, bercerita, dan kegiatan lain yang memberikan kesempatan pada anak menggunakan imajinasinya untuk memerankan orang lain atau menciptakan dunia kecil/ dunia baru di mana anak bebas mengeksplorasi berbagai hal. Ketika anak bermain, mereka seringkali menggunakan perilaku simbolis, di mana satu benda, hal, atau orang, seakan-akan merupakan benda, hal, atau orang lain. Misalnya, anak dapat bermain rumah-rumahan, dan mengambil peran sebagai orangtua yang mengasuh anak-anaknya. Anak juga dapat bermain mobil-mobilan, dimana mobil-mobilan yang kecil melambangkan mobil-mobil besar di jalan raya.

Bermain berbeda dengan memainkan permainan yang menggunakan aturan-aturan yang sudah ditentukan seperti ular tangga, dsb yang memberi kesempatan bagi anak untuk dapat bersenang-senang, belajar hitung, motorik halus, dan bermain bersama anak lain, tetapi tidak memberikan kesempatan bagi anak untuk bebas berekspresi dan bereksplorasi. Bermain, menggambar, dan bercerita penting membantu anak mengembangkan pikiran dan belajar mengendalikan perasaan dan peri-lakunya. Setelah peristiwa bencana, bermain, menggambar, dan bercerita dapat membantu dalam mengekspresikan pikiran dan perasannya, menghubungkan kembali anak dengan dunia di sekitarnya. Bermain adalah cara anak untuk mencapai keseimbangan dan kendali dalam hidup mereka. Hal ini penting untuk mengelola emosi dan perilaku mereka serta mencapai kesehatan jiwa yang optimal bagi anak dan remaja.

Aktivitas yang dapat dilakukan pada umumnya bertujuan untuk:

1. Memberikan kesempatan bagi anak untuk mencurahkan pikiran dan perasaannya

2. Mengembangkan kemampuan anak untuk berkomunikasi dengan menggunakan simbol

3. Memberikan anak cara untuk mengolah pengalamannya

a. Bermain:

  • Umumnya anak senang bermain, dan bila disediakan mainan atau alat dan bahan, mereka akan menggunakannya untuk bermain. Mulailah dengan mengatakan kepada anak bahwa mereka bisa bermain atau berbicara, menunjukkan mainan kepada anak dan memainkan bahan-bahan yang tersedia.
  • Meskipun banyak anak yang dapat langsung bermain di arena permainan, namun banyak pula yang awalnya enggan sehingga membutuhkan bantuan untuk memulai proses bermain. Anda dapat meminta anak untuk memilih sesuatu dan awali bermain dengan hal tersebut atau anda bisa memilihkan sesuatu untuk anak. Lempung dan bahan untuk menggambar adalah awal yang baik. Sebagai usaha terakhir, Anda dapat mulai memainkan sesuatu dan meminta anak untuk ikut bermain.
  • Tujuan bermain adalah menunjukkan pada anak bahwa mereka aman saat ini dan mengekspresikan emosi dan pikiran, serta mengembangkan berbagai imajinasi terkait rencana melindungi diri terhadap bencana masa depan
  • Tidak perlu mengarahkankan untuk memilih jenis permainan tapi cobalah mendukung permainan yang dipilih oleh anak. Gunakan proses bermain untuk memahami pikiran, perasaan, dan perilakunya anak. Cobalah untuk tidak terlalu banyak melakukan penafsiran dalam proses bermain tapi dukunglah anak untuk bermain dan bergembira dengan pilihannya tersebut.
  • Agar bermain dapat menjadi cara berekspresi yang aman, maka perlu diinformasikan bahwa selama bermain, tidak diperbolehkan melempar atau saling memukul.
  • Harus ada fasilitas dalam bermain sebagai salah satu cara alternatif dalam berekspresi. Misalnya, anak bisa dimotivasi untuk mengungkapkan kemarahan dengan kata-kata, dan memainkan pertarungan boneka secara pura-pura.

b. Menggambar:

  • Untuk menggambar, anak dan remaja dapat diberikan instruksi seperti: “Buatlah sebuah gambar, gambar apa saja yang terlintas dalam pikiran, gambar apa saja yang kalian mau/ bebas”. Usahakan agar mereka menggambar hal-hal yang menuju pemulihan dari harapan untuk masa depan, bukan hanya menggambar tentang bencana.
  • Jangan berbicara pada saat anak sedang asyik menggambar. Bila anak bertanya, jawablah dengan singkat sesuai pertanyaan anak. Hal ini dapat mengganggu anak yang sedang berekspresi.
  • Setelah anak menyelesaikan gambarnya, mintalah mereka untuk menceritakan gambar tersebut. Seni merupakan ungkapan perasaan dan dapat menciptakan kesempatan untuk berkomunikasi atau refleksi diri anak tersebut, tetapi bukan berarfi anak-anak sudah siap untuk ditanya tentang apa yang mereka buat.
  • Sebaiknya menghindari menafsirkan gambar yang dibuat.
  • Hindari memberikan komentar. Ingat bahwa tujuan kegiatan ini bukan menilai gambar yang dihasilkan, yang penting adalah anak diberi kesempatan untuk mencurahkan perasaannya melalui gambar tersebut.

Catatan: Bermaian dan menggambar sangat tergantung dengan budaya setempat

Pertolongan Pertama Psikologis (Psychological First Aid) dan Penanganan Krisis pada Anak dan Remaja

Tindakan utama pertolongan pertama psikologis untuk anak dan remaja, yaitu:

1. Kontak dan membina hubungan:  menjangkau atau menanggapi dengan tidak memaksa (respon non-intrusif), penuh kasih, dan dengan cara yang menolong

2. Keselamatan dan kenyamanan: meningkatkan rasa aman pada anak dan remaja segera maupun berkelanjutan, memberikan kenyamanan fisik dan emosional.

3. Stabilisasi: membantu menenangkan anak dan remaja yang bingung atau kewalahan.

4. Pengumpulan informasi: mengidentifikasi kebutuhan dan kekhawatiran saat ini.

5. Memberikan bantuan praktis sesuai dengan kebutuhan mereka agar mereka mampu membantu diri mereka sendiri.

6. Memberikan akses dukungan sosial: membantu mereka untuk dapat segera menjalin kontak dengan keluarga inti atau sumber dukungan lain, termasuk keluarga, teman, guru, sekolah, atau sumber daya yang ada di masyarakat.

7. Memberikan informasi tentang reaksi stres dan berupaya untuk mengurangi penderitaan serta meningkatkan fungsi adaptif.

8. Memberikan akses ke pusat layanan masyarakat yang mungkin dibutuhkan

Prinsip mudah untuk memberikan Psychological First Aid untuk anak adalah “dengar, lindungi, dan hubungkan”, yaitu:

1. Memperhatikan yang anak dan remaja katakan dan lakukan. Sampaikan bahwa anda hadir untuk mendengarkan mereka ketika mereka membutuhkan seseorang untuk diajak bicara.

2. Cari cara untuk membuat anak dan remaja merasa aman dan nyaman. Sampaikan pada mereka bahwa ada hal-hal yang akan berjalan normal kembali. Pastikan mereka bebas dari eksploitasi dan bahaya lebih lanjut.

3. Menjangkau, membantu anak-anak agar terhubung kembali dengan keluarga mereka, anak lain, dan layanan yang tersedia sehingga mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian, dan orang lain peduli akan mereka. Anak dan remaja juga membutuhkan kesempatan yang membantu mereka merasa dapat melakukan hal-hal untuk memperbaiki situasi mereka dan bahkan membantu orang lain.

Panduan Menciptakan Lingkungan yang Optimal untuk Mencegah Timbulnya Masalah Emosi dan Perilaku pada Anak dan Remaja.

1. Untuk anak usia 4-10 Tahun

Panduan untuk petugas kesehatan, orangtua, pekerja sosial, dan masyarakat umum

– Anak sering kali mengungkapkan kejadian dan perasaan yang dialami secara berulang-ulang. Orangtua sebaiknya meluangkan waktu dan mendengarkan dengan sabar.

– Pahami perasaan dan isi pikiran anak dengan cara berdiskusi dengan mereka mengenai pengalaman buruk akibat bencana yang dialami. Bantu anak untuk menceritakan hal-hal yang menyusahkan hati dan pikiran mereka.

– Orangtua sebaiknya mendengarkan secara aktif apa yang diceritakan anak mereka. Mendengar secara aktif berarti mendengarkan secara sensitif, menunjukkan ketertarikan, serta mampu dan siap untuk berbagi dengan anak. Dengan demikian, orangtua dapat menumbuhkan perasaan aman, rasa percaya dan kasih sayang dalam diri sang anak, serta menolong anak untuk menyesuaikan diri dengan pengalaman menyakitkan yang timbul akibat peristiwa bencana.

– Cobalah untuk mempertahankan rutinitas sehari-hari anak seperti biasa. Kondisi ini akan memberikan rasa aman dan meningkatkan rasa percaya diri anak. Jika memungkinkan, diharapkan anak kembali ke sekolah sesegera mungkin, bermain lagi dengan teman-temannya, serta menjalankan pola makan dan tidur dengan teratur.

– Berilah kesempatan kepada anak untuk meredakan ketegangan mental emosional yang terjadi akibat pengalaman buruk di masa bencana, misalkan dengan bermain atau menggambar. Kegiatan-kegiatan tersebut akan membantu anak memahami dirinya serta menyesuaikan dirinya dengan pengalaman buruk akibat peristiwa bencana.

Panduan untuk pendidik (guru, petugas kesehatan, pemuka agama, dsb.)

– Ingatlah bahwa peran sekolah sangat penting, yakni sebagai salah satu sarana yang dapat menyeimbangkan perasaan anak yang mengalami peristiwa bencana. Kegiatan sekolah adalah sumber kekuatan dalam kehidupan anak sehari-hari, terutama jika pelajaran terus berlangsung dan guru tetap mengajar seperfi biasa.

– Biarkan anak-anak berbagi perasaan mereka. Ruang kelas dapat menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi anak untuk berbagi perasaan dan pengalaman mereka.

– Yakinkan anak-anak bahwa reaksi mereka terhadap pengalaman buruknya adalah hal yang wajar. Para pendidik sebaiknya memahami reaksi mental emosional anak dengan baik, sehingga dapat memahami apa yang terjadi didalam diri anak dengan jelas dan mendukung mereka untuk meredakan ketegangan yang ada.

– Gunakan kegiatan-kegiatan rutin di dalam kelas sebagai usaha untuk membantu anak mengungkapkan perasaan dan pengalaman mereka yang tidak menyenangkan. Hal ini berguna untuk menolong dan mengembalikan kontrol diri anak secara bersama-sama. Kegiatan dapat berupa mengarang, menggambar atau membuat puisi.

– Ciptakan kegiatan ekstra di luar jam pelajaran, misalnya bernyanyi bersama, olahraga atau kegiatan kesenian lainnya. Hal ini bertujuan untuk memulihkan rasa percaya diri dan juga membantu anak untuk menyesuaikan diri dengan kondisi pascabencana.

– Ciptakan dan pertahankan lingkungan seperti lingkungan kelas sebagaimana biasanya karena kondisi ini akan membantu anak-anak untuk lebih berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas-tugas mereka

– Temukan anak yang memiliki masalah belajar atau masalah mental emosional lainnya. Bantulah anak-anak ini dan orangtuanya untuk mendapatkan dukungan dan pelayanan kesehatan yang sesuai. Adakan pertemuan dengan orangtua untuk merencanakan kegiatan yang dapat menolong anak.

2. Untuk Remaja Usia 11-17 Tahun

Panduan untuk petugas kesehatan, orangtua, pekerja sosial, dan masyarakat umum 

– Bantu remaja untuk membagi pengalamannya dengan kawan-kawan sebayanya. Kelompok teman sebaya juga merupakan sumber rasa aman di antara para remaja. Berkumpul dengan teman sebaya setelah mengalami peristiwa yang menyakitkan dan tidak mengenakkan akan membawa manfaat besar pada remaja, dan usaha seperti ini sebaiknya didukung.

– Bantu remaja mendapatkan informasi yang benar tentang peristiwa bencana yang dialaminya untuk meningkatkan keyakinan mereka. Remaja yang dilibatkan dalam hal-hal positif seperti membantu mencari korban lain dan membangun kembali tempat tinggalnya dapat terhindar dari beberapa dampak negatif yang terjadi akibat pengalaman buruk pada waktu peristiwa bencana.

– Diskusikan dengan remaja mengenai peran mereka sebagai generasi penerus dalam usaha membangun kembali daerah dan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Informasi ini dapat menolong para remaja untuk merasa lebih mampu mengendalikan kehidupannya, dan ini menjadi dasar bagi tumbuhnya pemikiran akan peran mereka di kemudian hari.

– Berikan dukungan untuk terlibat dalam kegiatan yang bertujuan memperbaiki keadaan di dalam masyarakat. Jika memungkinan, remaja dapat diikutsertakan dalam kegiatan masyarakat yang positif, seperti kegiatan masyarakat yang diadakan oleh organisasi lokal, rumah sakit, pendidikan di lokasi pengungsian, dan lain sebagainya. Melakukan kegiatan positif seperti ini akan membuat remaja merasa punya kendali terhadap hidup mereka.

Panduan untuk pendidik (guru, petugas kesehatan, pemuka agama, dsb.)

– Gunakan ruangan kelas sebagai sarana untuk berbagi mengenai perasaan tidak enak dan reaksi mereka akibat peristiwa bencana yang dialaminya. Selain itu, ruangan kelas juga merupakan tempat untuk berbagi perasaan khawatir tentang masa depan. Melalui kegiatan tersebut, mereka akan merasa bahwa ada teman sekelas dan orang dewasa lainnya yang peduli akan perasaan dan kehidupan mereka, sehingga mereka merasa tidak sendirian. Para pendidik dapat memimpin diskusi mengenai hal ini dan membatu remaja menemukan cara-cara yang positif untuk membangun kehidupan mereka di masa mendatang.

– Usulkan kegiatan-kegiatan yang positif, seperti membentuk kelompok dis-usi untuk membahas dampak bencana terhadap kehidupan masyarakat, masa depan dan cita-cita mereka. Para pendidik juga dapat mengkoordinasikan pertemuan dengan para ahli dalam beberapa bidang (agama, kesehatan, kebudayaan, dan lain-lain) untuk berdiskusi mengenai hal-hal di atas. Kegiatan ini bertujuan untuk menolong remaja mengatasi perasaan tidak berdaya, membangkitkan rasa percaya diri mereka, dan mampu memahami kondisi yang terjadi di sekelilingnya.

– Gunakan kedudukan anda sebagai panutan untuk mempengaruhi remaja agar tidak ikut serta dalam segala tindakan negatif, seperti pemakaian zat-zat terlarang dan perbuatan melanggar hukum lainnya. Bagi remaja, guru merupakan panutan atau teladan yang berpengaruh. Mereka dihormati, disegani dan sering diminta nasihatnya. Oleh karena itu, para pendidik bisa mempengaruhi remaja dengan cara menekankan pentingnya pendidikan sebagai salah satu jalan menuju masa depan yang lebih cerah, serta memperingatkan remaja yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dapat menghancurkan masa depan mereka. Kadangkala para pendidik juga merupakan tempat bertanya. Oleh karena itu, siapkan diri Anda untuk memberikan panduan untuk hal-hal yang bersifat praktis seperti mengatur waktu belajar yang efisien, mengelola masalah-masalah yang berhubungan dengan perasaan, serta mengendalikan pikiran- pikiran negatif yang ditimbulkan oleh peristiwa yang tidak menyenangkan akibat bencana.

Intervensi Krisis

Selain Psychological First Aid, profesional kesehatan mungkin perlu melakukan penanganan krisis yang timbul. Langkah-langkah dalam melakukan intervensi krisis mencakup:

1. Merencanakan dan melakukan penilaian atas bahaya secara menyeluruh (aspek biopsikososial)

2. Membangun hubungan kerjasama

3. Mengidentifikasi masalah utama, termasuk tindakan yang membahayakan atau merugikan diri, sulit tidur, flashback, menghindar, kewaspadaan dan menumpulnya perasaan.

4. Memungkinkan eksplorasi perasaan jika anak dan remaja menghendakinya, tapi jangan memaksa anak atau remaja untuk menceritakan kisah mereka bila mereka tidak siap.

5. Melihat kemampuan adaptasi remaja dan membicarakan strategi adaptasi alternatif/baru.

6. Mengembalikan fungsi melalui pelaksanaan rencana aksi yang telah disusun.

7. Merencanakan sesi tindak lanjut.

Teknik:

1. Bantu anak dan remaja melihat permasalahannya dari sudut pandang berbeda (reframing) dengan pertanyaan “Bagaimana kita dapat melihatnya dari sudut pandang lain? Apa pilihan lain yang bisa kita ambil?”

2. Ajarkan teknik relaksasi, sebagai berikut:

– Duduklah dalam posisi yang nyaman.

– Tarik napas perlahan melalui hidung.

– Secara perlahan dan lembut, ucapkan kata-kata yang menenangkan, dapat berupa kalimat doa singkat atau sebuah kata/ pikiran yang menenangkan (misalnya “tenang”, atau “damai”).

– Buang napas secara perlahan dan nyaman.

– Secara perlahan dan lembut ucapkan kepada diri sendiri, “Aku membiarkan ketegangan pergi.”

– Ulangi lima kali secara perlahan-lahan.

Bencana dan Kesehatan Jiwa: Perumusan Masalah Kesehatan Jiwa dalam Aspek Bio-Psikososial

Permasalahan kesehatan jiwa yang dihadapi anak dan remaja dapat diartikan sebagai kesulitan yang dialami oleh anak dan remaja tersebut yang dapat berasal dari dirinya sendiri (faktor internal) atau faktor di luar anak tersebut (faktor eksternal) seperti keluarga, teman sebaya atau sekolah. Masalah kesehatan jiwa yang terlihat perlu dikategorikan dan dibuat konteks yang lebih spesifik terutama pada saat kesulitan tersebut muncul, sebagai contoh:

  • Agresi yang tiba-tiba muncul di sekolah
  • Ketidakmampuan untuk memusatkan perhatian atau melamun di kelas
  • Perubahan suasana perasaan yang cepat di rumah dan di sekolah
  • Interaksi sosial yang buruk dengan teman sebaya
  • Kecemasan mengenai ujian Penolakan sekolah

Untuk merumuskan masalah kesehatan jiwa tersebut, maka perlu ditinjau dari aspek biopsikososial yang bertujuan untuk memahami kesehatan jiwa anak dan remaja yang lebih komprehensif. Dengan demikian, perlu diperhatikan beberapa faktor, seperti:

1. Faktor Kerentanan Faktor ini membuat anak dan remaja lebih rentan mengalami masalah kesehatan jiwa, yaitu berupa:

a. Kerentanan biologis:

– Kerentanan genetik

– Kondisi saat kehamilan ibu yang kurang optimal (contoh: usia ibu yang tua saat kehamilan, kurang gizi, merokok, konsumsi alkohol, penggunaan obat-obatan terlarang, penyakit ibu saat kehamilan)

– Komplikasi selama persalinan (contoh: kerusakan otak akibat kesalahan penggunaan alat dalam proses persalinan, persalinan sungsang, gangguan dari ari-ari, persalinan yang sulit) Mengalami cedera kepala, penyakit, dan gangguan lain-nya (contoh: kejang demam, penyakit ayan, kencing manis pada anak, asma, ataupun kanker )

b. Kerentanan Psikologis:

  • Temperamen anak (misalnya anak memiliki karakter mudah atau sulit bergaul)
  • Rendahnya kecerdasan (IQ) sebagai faktor risiko dari gangguan perilaku atau kesulitan belajar
  • Rendahnya rasa percaya diri dan kurangnya kontrol diri sebagai faktor risiko gangguan perilaku dan emosional

c.Kerentanan Sosial:

  • Hubungan orangtua-anak
  • Kelekatan orangtua-anak
  • Pola asuh orangtua (otoriter, permisif, atau pengabaian)
  • Keluarga yang tidak harmonis
  • Tekanan dan kekerasan pada anak
  • Perpisahan dan dukacita
  • Anak yang berada di rumah perlindungan .

2.  Faktor Pencetus

Merupakan faktor pencetus timbulnya masalah kesehatan jiwa pada anak dan remaja. Faktor ini dapat muncul secara mendadak atau bertahap, segera setelah anak lahir atau pada periode perkembangan anak selanjutnya.

3. Faktor yang Mempertahankan

Adalah faktor yang mempertahankan masalah kesehatan jiwa pada anak dan remaja sehingga terus-menerus ada, yaitu:

a. Aspek Biologis

Gangguan pengaturan dari beberapa sistem fungsi tubuh, misalnya:

  • Perubahan hormonal yang berkaitan dengan pubertas (akil balik) sehingga menyebabkan anak yang mengalami depresi
    • Gangguan fungsi tiroid pada anak yang menyebabkan gangguan cemas
    • Gangguan siklus tidur sehingga sulit fokus pada sesuatu (gangguan atensi)

b. Aspek Psikologis

– Rendahnya kepercayaan diri

– Kecenderungan sifat atau sikap anak yang menyulitkan, misalnya:

+ Kecenderungan sifat depresi

+ Kecenderungan sikap bermusuhan

– Gangguan fungsi kognitif, misainya: Cara pandang yang terganggu terhadap situasi yang menekan, sehingga menghasilkan kecemasan dan depresi

– Strategi adaptasi yang terganggu

Dalam beradaptasi dengan situasi yang tidak nyaman, anak cenderung berfokus pada masalah, emosi, atau cenderung menghindar

c. Aspek Sosial:

– Dorongan yang tidak sesuai dari orang-orang di sekitar anak

– Keterlibatan orangtua atau lingkungan yang berlebihan

– Disiplin yang tidak konsisten

– Pola komunikasi yang membingungkan

– Ketidakhadiran salah satu figur orangtua

– Sikap dan perilaku orang di sekitar yang buruk dan membuat anak mencontoh

– Kurangnya dukungan sosial

– Tekanan hidup seperti orangtua tidak bekerja, kesulitan keuangan

– Sekolah yang tidak sesuai

– Tekanan teman sebaya

– Tim bantuan yang tidak terkoordinasi dengan baik

4. Faktor Pelindung

Faktor yang melindungi agar masalah kesehatan jiwa pada anak dan remaja tidak berlanjut atau semak buruk. Faktor ini berpengaruh pada keberlangsungan masalah kesehatan jiwa tersebut dan keberhasilan dalam tata laksana.

a. Faktor Pelindung Biologis:

  • Kesehatan fisik yang baik
  • Tidak adanya riwayat keluarga
  • Proses persalinan normal
  • Tidak ada riwayat gangguan medis yang berat
  • Cukup nutrisi dan olahraga
  • Usia

b. Faktor Protektif Psikologis:

  • Temperamen anak yang baik
  • Kemampuan intelektual yang tinggi
  • Percaya diri yang tinggi
  • Kemampuan mengatur diri (emosi dan perilaku)
  • Kontrol diri yang baik
  • Optimistik
  • Strategi adaptasi diri yang baik

c. Faktor Sosial:

  • Tim bantuan terapi yang terpadu
  • Dukungan keluarga untuk membantu anak
  • Kelekatan yang secure/ aman

Pertolongan Psikologis Pertama dan Intervensi Krisis bagi Anak dan Remaja di Daerah Bencana

Anak yang mengalami bencana dapat memiliki berbagai masalah emosi dan perilaku. Banyak laporan yang menyatakan bahwa anak dengan bencana cenderung memiliki perilaku yang tidak adaptif. Untuk itu, perlu diidentifikasi semua masalah emosi dan perilaku tersebut, baik oleh orangtua, guru, maupun anak. Yang lebih penting adalah para profesional kesehatan jiwa anak dan remaja perlu memperhatikan seluruh aspek kehidupan anak dan tidak memusatkan perhatian pada kejadian bencana saja. Setelah memahami dampak bencana terhadap kesehatan jiwa anak dan remaja, deteksi dini masalah emosi dan perilaku pada anak dah remaja, serta perumusan masalah kesehatan jiwa dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memahami kesehatan jiwa anak dan remaja yang terkena dampak bencana. Bagian teiakhir ini membahas berbagai dukungan psikologis yang dapat dilakukan pada anak dan remaja yang terkena dampak bencana, intervensi krisis serta tips untuk mengatasi stress pada anak dan remaja termasuk hal-hal yang perlu dperhatikan dalam mengkomunikasikan berbagai isu terkait bencana pada anak dan remaja untuk membangun resiliensi.

Dukungan yang utama adalah bantuan pertama psikologis (Psychological First Aid). Bentuk dukungan ini dapat diberikan di lapangan oleh oiang awam yang terlatih. Untuk anak dan remaja yang mengalami masalah emosi dan perilaku, maka dukungan sebaiknya dilakukan oleh tenga profesional (seperti psikolog atau psildater). Tak kalah pentingnya, orang yang mendukung anak dan remaja di daerah bencana perlu memperhatikan kesehatan jiwa diri sendiri, antara lain dengan mencegah burn out atau kelelahan. 

Stres berat dapat mengakibatkan perubahan mendalam dan berkepanjangan terhadap pikiran, perasaan, dan perilaku anak maupun remaja. Selama ini, respon anak terhadap stres atau trauma kurang dikenali dan dipelajari dibandingkan dengan respon pada orang dewasa. Pada anak, respon tersebut dipengaruhi oleh tahap perkembangan karena respons anak kemampuan anak untuk mengenali tanda bahaya, ancaman, makna suatu kejadian, integritas pribadi, resiliensi, harapan tentang pemuulihan, dan dampaknya terhadap kehidupan anak tersebut.

Bencana yang dialami mempengaruhi pikiran, emosi, perilaku, dan sistem biologis anak, serta seringkali mengubah rencana, harapan, dan konsep anak terhadap dunia sekitarnya. Akibatnya, pandangan mereka terhadap masa depan juga berubah. Kondisi tersebut berpengaruh negatif pada emosi dan perilaku anak di saat ini dan di masa mendatang. Oleh karena itu, anak dan remaja yang mengalami bencana membutuhkan pendekatan intervensi psikososial yang spesifik, misalnya pertolongan pertama psikologis (Psychological First Aid). Intervensi tersebut adalah teknik yang dapat diaplikasikan baik di pelayanan kesehatan primer, pusat kesehatan jiwa anak, serta ruang kelas dan tempat-tempat lainnya.

Teori Keseimbangan Energi Dalam Akupuntur

Keseimbangan Yin dan Yang

YIN – YANG
Teori Yin-Yang mengatakan bahwa tiap benda atau fenomena di alam semesta mempunyai dua aspek yang berlawanan, yaitu Yin dan Yang yang saling bertentangan tetapi saling bergantung.
Hubungan Yin Yang ini merupakan hukum universal secara luas dalam ilmu pengobatan Cina tradisional untuk menerangkan fisioiogi dan patologi tubuh manusia dan untuk digunakan sebagai panduan menegakkan dianosis dan pengobatan.

  1. Pertentangan dan Saling Ketergantungan Yin dan Yang
    Pertentangan dan saling ketergantungan Yin dan Yang merupakan kontradiksi dari dua hal yang berlawanan yang terdapat dalam suatu obyek atau fenomena.
    Orang-orang Pintar di zaman kuno mengambil air dan api sebagai lambang dari sifat-sifat dasar sebab sifat-sifat dasar Yin adalah seperti sifat-sifat air yaitu bersifat dingin, alirannya ke bawah, jernih, dan sebagainya.
    Sedangkan sifat-sifet dasar Yang adalah seperti sifat api, yaitu bersifat panas, nyala api berkobar mengarah ke atas, dsb. Maka disimpulkan bahwa sesuatu yang mempunyai sifat diam, dingin, kedudukannye di bawah (atau mengarah ke bawah), berada di dalam (atau mengarah ke dalam), jernih, astenia (tidak bertenaga), inhibisi, lambat, dsb adalah tergolong mempunyai sifat Yin. Di samping itu sesuatu yang mempunyai sifat bergerak, panas, berada di posisi atas (atau mengarah ke luar), kering, eksitasi dsb, adalah tergolong mempunyai sifat Yang.
    Karena sifat-sifat Yin dan Yang dari sesuatu benda hanya ada dalam perbandingan dan pula suatu benda dapat dibagi-bagi terus tiada habisnya maka sifat-sifat Yin-Yang dari suatu benda tidak mungkin mutlak, melainkan relatif. Dalam beberapa kasus kedua sifat benda yang bertentang itu bisa berubah. Maka timbullah keadaan-keadaan dimana aspek Yin berkembang dalam Yin berkomplikasi dengan Yin, dan Yin berkomplikasi dengan Yang. Konsep ini sesuai dengan kenyataan yang obyektif.
    Jaringan-jaringan dan organ-organ tubuh manusia dapat bertalian dengan Yin atau Yang sesuai dengan lokasi-lokasi atau fungsi-fungsi relatif mereka. Bila tubuh ditinjau dalam keseluruhannya, maka permukaan tubuh dan keempat alat pergerakan karena berada di sebelah luar, termasuk Yang, sementara organ-organ Zang Fu yang ada di bagian dalam tubuh termasuk Yin.
    Bila permukaan yubuh dan keempat alat pergerakan kita tinjau terpisah, maka punggung tergolong Yang sementara dada dan abdomen temasuk Ying kemudian bagian tubuh di atas pinggang bertalian dengan Yang dan yang ada di bawahnya tergolong Yin.
    Aspek lateral keempat ekstremitas berkaitan dengan Yang dan aspek medial berhubungan dengan Yin, meridian-meridian yang berjalan melalui bagian lateral alat (lengan atau tungkai) berpaduan dengan Yang, sedangkan yang berjalan di sisi medial termasuk Yin. Bila kita bicara tentang organ-organ Zang Fu secara terpisah, maka organ-organ Fu dengan organ Fu lain untuk diolah lebih lanjut, tergolong Yang, sedangkan organ-organ Zang dengan fungsinya yang khusus, yaitu menyimpan zat-zat pokok dan energi vital dihubungkan dengan Yin.
    Masing-masing organ Zang Fu dapat pula diberi atas Yin atau Yang, yaitu yang bersifat Yin ginjal dan yang bersifat Yang ginjal. Sifåt Yin dan Yang lambung, dan sebagainya.
    Singkat kata, betapapun kompleksnya susunan-susunan jaringan dan struktur tubuh manusia serta fungsi-fungsi kegiatannya, mereka dapat golongkan dan dijelaskan melalui hubungannya dengan Yin dan Yang.
    Hubungan saling ketergantungan antara Yin dan Yang berarti bahwa masing-masing dari kedua aspek merupakan syarat bagi adanya (eksistensinya) tiada satu dari kedua aspek ini bisa lepas mandiri terpisah dari yang lain. Misalnya, tanpa siang takkan ada malam, tanpa eksitasi takkan ada inhibisi.
    Dari sini dapat kita lihat bahwa Yin dan Yang sekaligus bertentangan dan saling bergantung, mereka saling membutuhkan untuk bisa bereksitensi yaitu Yang berkoeksistensi dalam satu kesatuan. Gerakan dan perubahan suatu benda terjadi tidak hanya karena adanya hubungan saling bergantung dan saling membutuhkan antara mereka.
    Dalam kegiatan fisiologis, transformasi substansi-substansi menjadi fungsi dan sebaliknya membenarkan teori saling ketergantungan antara Yin dan Yang. Substansi tergolong Yin dan fungsi termasuk Yang. Substansi adalah basis dari fungsi, sementara fungsi merupakan pencerminan eksistensi yang pertama sebelum menjadi daya motivasi pembentukan substansi. Hanya bila terdapat persediaan makanan yang cukup, maka kegiatan-kegiatan fungsional organ-organ Zang Fu bisa disebut sehat, sebaliknya hanya bila kegiatan-kegiatan fungsional organ-organ Fu dalam keadaan sehat, dapatlah mereka secara konstan mentimulasi produksi zat-zat makanan. Koordinasi dan keseimbangan antara substansi (zat) dan fungsi merupakan jaminan vital kegiatan-kegiatan fisiologis. Maka datam buku Neijing dijelaskan: “Yin berada di dalam dan menjadi pondasi materi bagi Yang, sedangkan Yang tetap berada di luar sebagai manifestasi fungsi Ying.
  2. Hubungan Saling Melebur, Membentuk dan Saling Mengubah Antara Yin dan Yang.
  3. Melebur mencakup pengertian hilang atau menjadi lemah membentuk berimplikasi memperoleh atau menjadi kuat. Kedua aspek Yin dan Yang dalam suatu benda tidak tetap, tetapi senantiasa bergerak terus menerus secara konstan. Karena kedua aspek ini Saling bertentangan dan sekaligus pula saling menunjang, maka berkurang atau bertambahnya aspek yang satu dengan sendirinya akan mempengaruhi aspek yang Iain, misalnya, dengan melebur Yin akan diperoleh Yang. sebaiknya melebur Yang akan menghasilkan Yin.
    Kegiatan-kegiatan fungsional tubuh manusia membutuhkan sejumlah zat-zat makanan tertentu, yang mengakibatkan terjadinya suatu proses leburan Yin dan pembentukan Yang, sedangkan pembentukan dan penyimpanan zat-zat makanan bergantung atas kegiatan-kegiatan fungsional yang akan melemahkan energi fungsional sampai pada tingkat tertentu, sehingga menyebabkan terjadinya proses pembentukan Yin dan peleburan Yang.
    Namun kegiatan saling melebur dan membentuk itu tidak menuju kepada keadaan keseimbangan mutlak.
    Dalam keadaan normal pertentangan-pertentangan antara Yin dan Yang ini tetap memelihara adanya keseimbangan relatif, tetapi dalam keadaan abnormal akan terjadi ekses atau defisiensi Yin dan Yang.
    Apabila dalam proses saling melebur akan tampak ada gejala hilangnya relatifitas antara Yin dan Yang dan kegagalan untuk memulihkan keseimbangan itu, maka akan timbul keadaan ekses atau defisiensi dari salah satu Yin atau Yang.
    Hal ini merupakan faktor penyebab terjadinya penyakit, yaitu bila Yin atau Yang terdapat dalam keadaan ekses atau defisien.
    Misalnya Yin ekses akan menghabiskan Yang, dan keadaan Yang defisien di pihak lajn juga akan membawa pada keadaan Yin ekses, yang masing-masing dapat mengawali timbulnya sindrom dingin. Sebaliknya keadaan Yang ekses akan menghabiskan Yin, tapi keadaan Yin defisien juga akan mengakibatkan keadaan Yang ekses, yang masing-masing dapat membentuk sindrom panas.
    Sindrom-sindrom dingin atau panas yang disebabkan oleh faktor-faktor berbahaya yang belebihan dikaitkan dengan jenis Shi (Se, ekses), sedangkan sindrom-sindrom yang timbul akibat dingin atau panas karena menurunnya resistensi umum dihubungkan dengan jenis Xu (Si, defisien).
    Kedua jenis sindrom ini berbeda sifatnya, oleh karena itu prinsip-prinsip pengobatannya juga berbeda, yaitu sedasi (pelemahan) bagi sindrom-sindrom ekses dan tonifikasi (penguatan) bagi sindrorn-sindrom defisiensi. Karena terjadinya penyakit adalah akibat ketidakseimbangan Yin dan Yang, maka semua pengobatan harus diarahkan pada perujukan kedua aspek ini (Yin dan Yang) yaitu pada pengembalian keseimbangan relatif antara Yin dan Yang ini.
    Dalam pengobatan akupunktur, titik-titik di sisi badan sebelah kanan dapat dipilih untuk mengobati-gangguan-ganggutan di sisi badan sebelah kiri dan sebaliknya, sedangkan titik-titik Akupunktur di bagian badan sebelah bawah bisa dipilih untuk mengobati gangguan-gangguan yang tertetak di bagian badan sebelah atas dan pula sebaliknya.
    Semua cara ini adalah berdasarkan konsep anggapan bahwa badan merupakan kesatuan organik yang utuh dan tujuan pengobatan ialah untuk untuk menyesuaikan kembali hubungan antara Yin dan Yang dan meningkatkan sirkulasi Qi dan darah.
    Xu (defisiensi) dan Shi (ekses) merupakan dua prinsip dalam perbedaan sindrom.
    Xu (defisiensi) mencakup pengertian resistensi-resistensi tubuh yang menurun akibat hipofungsi atau insufisiensi zat-zat tertentu.
    Shi (ekses) menyatakan adanya kondisi patotogik dimana faktor etiologi luar ditemukan sangat berkuasa, sedangkan seluruh resistensi tubuh masih mapan keadaannya.
    Yang dimaksud dengan sifat mengubah antara Yin dan Yang ialah bahwa dalam keadaan-keadaan tertentu dan pada tingkat perkembangan tertentu, masing-masing aspek Yin dan Yang pada suatu benda akan mengubah dirinya menjadi aspek yang berlawanan dengannya, yaitu Yin berubah menjadi Yang dan Yang berubah menjadi Yin. Apakah transformasi dengan sesungguhnya terjadi atau tidak tergantung dari ada atau tidak adanya kemungkinan untuk berubah dalam benda itu sendiri. Bila kemungkinan itu ada, maka kondisi-kondisi luarnya juga penting sekali.
    Perkembangan dan perubahan sesuatu benda memerlukan suatu proses, dan kondisi-kondisi luar yang memungkinkan transformasi itu harus mencapai tingkat kematangannya secara pelan-pelan. Proses saling mengubah antara Yin dan Yang juga mengikuti peraturan ini. Menurut Neijing: “Harus ada keadaan diam tak bergerak menyusul gerakan yang eksesif; yang ekstrim akan menjadi Yin.”.
    Pembentukan suatu benda adalah hasii transformasi, penghancuran suatu benda adalah akibat transmutasi. lnilah makna yang sebenamya dari ungkapan: “Sekali sampai pada batas tertentu, perubahan kearah yang berlawanan tak dapat dihindari lagi, dan perubahan-perubahan kuantitatif itu akan membawa kepada perubahan-perubahan kualitatif.
    Transformasi yang terjadi antara Yin dan Yang merupakan hukum universal yang mengatur dan memimpin perkembangan serta perubahan benda-benda.
    Perubahan keempat musim merupakan sebuah contoh. Musim semi dengan kehangatannya tiba bila musim dingin yang dingin telah mencapai puncaknya, dan musim gugur yang sejuk tiba bila musim panas yang panas telah mencapai klimaksnya. Perubahan pada sifat penyakit merupakan sebuah contoh lain. Seorang pasien dalam keadaan demam tinggi yang terus meningkat pada penyakit demam akut, akan mengalami penurunan suhu badan, wajah menjadi pucat dan ekstremitas dingin disertai nadi lemah dan kecil seperti benang, yang menunjukkan bahwa sifat penyakitnya telah berubah dari Yang menjadi Yin, maka cara pengobatannya pun perlu diubah sesuai dengan keadaan penyakitnya.
    Yang dituturkan di atas adalah pengantar singkat menuju teori Yin Yang disertai beberapa contoh untuk menggambarkan penerapannya dalam pengobatan Tiongkok tradisional. Singkat kata, hubungan antar oposisi, antar ketergantungan, antar menghabiskan dan saling mengubah antara Yin dan Yang dapat disimpulkan sebagai hukum kesatuan dari yang bertentangan.
    Lebih lanjut, keempat hubungan antara Yin dan Yang yang disebutkan di atas tidak berlangsung secara terpisah-pisah satu dengan yang lain, tetapi saling berpautan, yang satu mempengaruhi yang lain, dan masing-masing menjadi penyebab atau pengakibat dari yang lain.

Sejarah Akupuntur

A. Sejarah Akupuntur dan Moksibosi

Akupuntur pada jaman dahulu

Akupuntur dan Moksibosi sudah mulai dikenal sejak jaman batu, yaitu kira kira 4000-5000 tahun yang lalu       orang-orang menggunakan alat – alat yang terbuat dari batu untuk kehidupan sehari-hari,seperti memburu binatang dan sebagainya

penempelan moksa untuk kesehatan pencernaan

Dalam keadaan tidak sengaja luka yang terkena alat batu ternyata mengakibatkan penyakit yang dideritanya.Oleh karena itu pada penyakit yang sejenis, mereka mencoba menggores kulit atau menekan dengan batu runcing yang hasilnya dapat menyembuhkan penyakit. Pengalaman-pengalaman ini merupakan permulaan dan pengobatan tusuk jarum.

Kata Akupunktut berasal dari bahaga Yunani, yaitu Acus dan Punctura yang berarti jarum dan menusuk. Kata tersebut kemudian diadaptasikan kedalam bahasa Indonesia menjadi Akupunktur atau tusuk jarum. Kata asal dalam bahasa Cina adalah Cenciu yang kemudian berkembang luas di dunia internasional sesuai dengan aslinya yaitu Cenciu / Acupuncture. Pada jaman Cun Ciu penggunaan besi sudah mulai berkembang, maka alat jarum  batu “Pien Se” berkembang menjadi “Ciu Cen ” ( sembilan jarum)

Buku pengobatan tradisional yang tertua adalah Huang Ti Neiching/ The Yellow Emperors Classic of Internal Medecine yang merupakan buku yang pertama kali memuat dasar- dasar ilmu Akupunktur, yang diterbitkan pada zaman Cun Ciu Can Auo tahun 770 – 221 SM. Buku ini terdiri dari 2 bagian yaitu “Ling Su” ( Spiritual  Pivot) dan “Su Wen” ( Essential question )

1. Su Wen tertulis :

 a.  Prinsip – prinsip hukum alam

b.  Pergerakan hidup hubungan alam semesta, manusia, dan bumi, filosofi Yin-Yang, Teori Lima Unsur

 c. Sistem organ di dalam tubuh – Zang Fu

 d. Sistem Meridian Ching lo

 e. Pengertian Qi, Xie, Cing, Sen dan materi desar yang lainnya

 f.   Delapan Dasar Diagnosa

 g.  Dasar-dasar terapi Akupunktur

2.Ling su

Berisi petunjuk – petunjuk tehnik aplikasi dan praktek pengobatan. Pada zaman Tung Han seorang ahli bedah dan ahli dalam bidang Akupunktur yaitu Hua Tuo pernah mengobati jenderal Chao Cao hanya dengan satu jarum.

Tahun 210 Zhang Ahong Jing, menulis buku dengan judul “Shang Han Lun” (Treatise on Febrile Diseases) yang menerangkan secara sistematis tentang penyakit, diagnosis, serta cara pengobatan pada penyakit Tiphus, kolera, dan disentri.

Tahun 581 682 – Zaman Dinasti Tang, Sun Sen Miao menyusun buku “Cien Cing I Fang”. Pemerintahan Cina pada waktu itu sangat memperhatikan pengobatan Akupunktur, dan mendirikan sekolah pendidikan Akupunktur yang  didunia dengan lama pendidikan 4 tahun dengan ujian yang ketat. Selanjutnya ilmu Akupunktur mulai berkembang dan tersebar keluar dari negara asalnya yaitu Korea, Jepang, dan negara lainnya.

Tahun 960 – Dinasti Sung, Wang Wei I telah membuat patung perunggu yang melukiskan jalannya meridian dan titik – titik Akupunktur.

Tahun 1026 – Zaman Dinasti Tang, ditulis buku dengan judul The Classic of Bronze Man        Didalamnya berisi keterangan mengenai topografi titik – titik Akupunktur       pada dua buah patung perunggu yang ukurannya menyerupai yang sebenarnya.

Tahun 1341 – Zaman Dinasti Yen , Hua Pe Ren menyusun buku tentang 14 Meridian termasuk nama titik-titik serta jalan Meridian.

Tahun 1368 – 1644 – Zaman Dinasti Ming, Lie Se Cen menyusun buku “Chi Cing Pa Mai Kao”

Tahun 1601 , Yang Ci Cau, menyusun buku ” Cen Ciu Ta Chen “. Pada tahun ini ditulis puia buku yang berjudui “Compendium of Materia Medica”, yang mana didalam buku ini diterangkan mengenai Pulse Diagnosis, adanya ekstra Meridian dan obat-obatan herbal.

Tahun 1644 – 1911 Zaman Dinasti Cing, buku Akupunktur yang cukup bernilai adalah “i Cung Cin Cien”

Tahun 1949 – Pengobatan Akupunktur sudah mulai berkembang dengan didirikannya Pusat Penelitian Pengobatan Tradisional Cina secara ilmiah. Buku yang disusun oleh Cu Lien “Sin Cen Ciu Sie” , dan Lu Cen Cun menulis “Sien Pien Cen Ciu Sie” telah diterbitkan dan merupakan bahan pelajaran untuk pendidikan Akupunktur.

Tahun 1955 – lmu Akupunktur merupakan sebuah mata pelajaran datam perguruan tinggi Kedokteran di Cina.

Tahun 1956 – Didirikan 5 buah Akademi Pengobatan Tradisionai Cina yang tersebar di kota Beijing, Nanjing, Shanghai, Kanton, dan CenTu

Tahun 1958 Negara Cina makin mengintensifkan penelitian dalam bidang ilmu Akupunktur.

Tahun 1963 – Seorang ahfi Biologi dari Korea yang bemama Prof. Kim Bong Han telah meneliti, menjelaskan serta mendemonstrasikan secara histologis dan elektro biologis tentang meridian dan titik Akupunktur dalm Teori ” Kyung Rak System “

Tahun 1968 – Akupunktur mulai digunakan sebagai anastesi dalam pembedahan.

Perkembangan Akupunktur di dunia menunjukkan penyebaran yang pesat antarå lain

Tahun 541 Akupunktur mulai menyebar ke Korea

Tahun 552 – Akupunktur berkembang ke Jepang

Tahun 1508 1955 – Akupunktur mulai masuk ke negara Eropa

Tahun 1878 – 1955 – Akupunktur mulai berkembang di Perancis

Tahun 1971 – Presiden Amerika Serikat Nixon berkunjung ke Cina dan semenjak itu Akupunktur mulai berkembang di Amerika Serikat.

Beberapa buku lainnya menyebutkan bahwa Akupunktur tidak hanya dimiliki oleh bangsa Tiongkok, tetapi juga ditemukan di Mesir (ditulis diatas daun Papirus 1550 SM) suku Bantu di Afrika Selatan, bangsa Arab, Bangsa Eskimo, dan Brazilia.

Akupunktur berkembang di seluruh dunia dan dipermodern serta dikembangkan oleh tokoh – tokoh seperti Felix Mann, Hiyodo Kirkan, Kellner, Maresh, Bergmen-Woolan, Hart, Matsimoto – Hoyes, Trigoviste, Niboyet, Nogier, Voll dan lain-lain.

Tahun 1979 – WHO telah merekomendasikan 43 jenis penyakit yang dapat diobati dengan akupunktur, dengan ditetapkannya peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no 1186/ MenKes/ Per/ XI/ 1966 pada tanggal 12 November 1996, Akupunktur resmi dapat diterapkan pada sarana pelayanan kesehatan formal sebagai pengobatan alternatif disamping pelayanan kesehatan lain pada umumnya,  baik pemerintah atau swasta di Indonesia.

B. Perkembangan Akupunktur di Indonesia

  1. Masuknya Akupunktur di Indonesia
    Meskipun tidak didukung oleh data – data yang diperlukan untuk menyusun suatu sejarah,namun diperkirakan Akupunktur telah masuk ke wilayah Indonesia sejak hadirnya para imigran dari daratan Cina pada abad ke 18.
    Perkiraan ini berdasarkan pada kenyataan bahwa Akupunktur yang telah berumur ribuan tahun itu dapat dikatakan telah melekat membudaya pada masyarakat Cina, yang berarti kemanapun mereka bergerak, ilmu dan praktik Akupunktur hampir dapat dipastikan akan selalu terbawa serta. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberadaan Akupunktur di semua bagian dunia dimana terdapat masyarakat Cina di wilayah itu, tidak terkecuaii di Indonesia.
  2. Perkembangan Akupunktur di Indonesia
    Semula perkembangan Akupunktur di Indonesia merupakan kegiatan yang sangat tertutup di kalangan masyarakat Cina.
    Masyarakat Indonesia pada umumnya hanya mendengar cerita burung tentang adanya ilmu tusuk jarum dari negeri Cina yang ampuh untuk mengobati berbagai macam penyakit. Baru pada tahun 1962 dengan kedatangan sebuah tim ahli Akupunktur dari RRC ke Indonesia untuk mengobati Presiden RI pertama DR. Ir. Soekarno, masyarakat mulai mempunyai gambaran yang lebih jelas tentang Akupunktur.
    Pernyataan DR.lr Soekamo secara terbuka dan jujur mengenai kemanjuran pengobatan Akupunktur yang dialaminya, serta anjuran kepada para dokter Indonesia untuk mau mempelajari ilmu tersebut, dapat dikatakan sebagai titik tolak pengembangan Akupunktur di Indonesia, yang dimulai dari lbu kota dan kemudian meluas keseluruh pelosok tanah air
    Waktu itu, sejumlah dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) langsung menyerap ilmu Akupunktur dari tim ahli Akupunktûr dari RRC, dan pada tahun 1963 RSCM di Jakarta dapat sebagai rumah sakit pertama di Indonesia yang membuka kesehatan dengan Akupunktur.

Deteksi Dini Masalah Emosi dan Perilaku dengan Kuesioner Kekuatan dan Kelemahan (Strength and Difficulties Questionnaire- SDQ).

SDQ adalah kuesioner untuk deteksi dini masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja berusia 4 – 17 tahun yang berisi 25 butir pernyataan yang terdiri dari :

  • 5 butir untuk ranah masalah emosi
  • 5 butir untuk ranah masalah perilaku
  • 5 butir untuk ranah hiperaktivitas
  • 5 butir untuk ranah masalah hubungan dengan teman sebaya
  • 5 butir untuk ranah perilaku prososial

Validasi dan reliabilitas SDQ dinilai cukup baik berdasarkan:

Konsistensi internal dari kuesioner ini baik untuk guru, orangtua, dan remaja sama baiknya jika dibandingkan dengan konsistensi internal Child Behavior Check List (CBCL).

Rata-rata korelasi momen hasil ranah SDQ adalah memuaskan (orangtua-guru 0,38; laporan guru-laporan diri 0,27; laporan orangtua-laporan diri 0.35) dan sebanding dengan korelasi rata-rata antar-in-forman CBCL (0.34).

Untuk anak yang berusia 4-10 tahun, kuesioner SDQ dapat diisi oleh orangtua atau guru. Sedangkan, bagi remaja berusia 11-17 tahun, SDQ dapat diisi oleh yang bersangkutan. Interpretasi kuesioner SDQ untuk anak yang berusia 4-10 tahun dan 11-17 tahun berbeda. (Lihat penjelasan selanjutnya)

Setiap pernyataan di dalam kuesioner SDQ dijawab dengan tidak benar, agak benar, dan benar. Pada umumnya, jawaban tidak benar diberi nilai 0, jawaban agak benar diberi nilai 1, dan jawaban benar diberi nilai 2, kecuali pada pernyataan nomor 7, 11, 14, 21, dan 25, maka jawaban tidak benar diberi nilai 2, jawaban agak benar diberi nilai 1, dan jawaban benar diberi nilai 0 (Lihat lembar kuesioner SDQ yang diberi tanda *).

Penilaian SDQ

Jumlah nilai total kesulitan didapat dari menjumlahkan nilai total ranah masalah emosi, masalah perilaku, ranah masalah hiperaktivitas, ranah masalah hubung-an dengan ternan sebaya, yaitu:

  1. Nilai ranah masalah emosi, yaitu, menjumlahkan pernyataan nomor 3, 8, 13, 16, dan 24.
  2. Nilai ranah masalah perilaku, yaitu menjumlahkan pernyataan nomor 5, 7, 12, 18, dan 22.
  3. Nilai ranah masalah hiperaktivitas,yaitu menjumlahkan pernyataan nomor 2, 10, 15, 21, dan 25.  
  4. Nilai ranah masalah hubungar teman sebaya,yaitu menjumlahkar pernyataan nomor 6, 11, 14, 19 dan 23.

Jumlah nilai ranah prososial merupakar penjumlahan dari pernyataan nomor 1 4, 9, 17, dan 20 yang mencerminkan kekuatan dalam diri anak dan remaja

Rujukan Bagi Anak dan Remaja yang Mengalami Gangguan Emosi dan Perilaku Akibat Bencana

Berdasarkan nilai total kesulitan kuesioner SDQ dan nilai masing-masing ranah kesulitan (ranah masalah emosi, ranah masalah perilaku, ranah hiperaktivitas, dan ranah masalah de-ngan teman sebaya), maka ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian khusus, yaitu: jika jumlah nilai tersebut berada pada kategori tinggi dan sangat tinggi, maka anak atau remaja tersebut perlu dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan jiwa primer ataupun sekunder

Masalah ini muncul akibat bencana. Dengan demikian, kategori normal dan sedikit tinggi juga perlu mendapatkan perhatian berupa dukungan kesehatan jiwa dalam keluarga dan masyarakat agar reaksi normal tersebut tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih berat. Untuk memastikan apakah seorang anak atau remaja memiliki gangguan mental, maka mereka harus dirujuk ke fasilitas kesehatan primer, sekunder, atau tersier dan menjalani pemeriksaan psikiatrik dan status mental yang cermat. Jika diperlukan, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya untuk memastikan permasalahan yang ada.

Perumusan Masalah Kesehatan Jiwa pada Anak dan Remaja di Daerah Bencana : Fokus pada Aspek Biopsikososial

Setelah memahami dampak bencana terhadap kesehatan jiwa anak dan remaja, serta pentingnya membangun resiliensi, dan bagaimana melakukan deteksi dini masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja, bagian ini akan menjelaskan bagaimana cara merumuskan masalah kesehatan jiwa pada anak dan remaja yang mengalami peristiwa bencana. Bagian ini menjabarkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan permasalahan kesehatan jiwa anak dan remaja yang terkena dampak bencana sehingga pemahaman kita terhadap anak, remaja dan keluarga menjadi lebih baik.

Perumusan masalah kesehatan jiwa dilakukan setelah anak terdeteksi mengalami masalah emosi dan perilaku, yaitu dengan cara mengumpulkan berbagai informasi dari sumber-sumber, seperti keluarga anak/pengasuh, sekolah, tes psikologis (jika memungkinkan) dan sumber potensial lainnya. Proses ini melibatkan berbagai aspek kehidupan seperti aspek biologis, psikologis, dan lingkungan termasuk orangtua serta lingkungan kehidupan anak dan remaja lainnya, sehingga disebut aspek biopsikososial, dengan tujuan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai permasalahan kesehatan jiwa anak dan remaja tersebut.

Masalah Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja di Daerah Bencana

Bencana dapat mengakibatkan keluarga harus berpindah ke tempat pengungsian sementara. Perubahan ini menimbulkan masalah, terutama masalah kesehatan jiwa bagi individu, keluarga, dan masyarakat. Terkadang banyak orang harus tinggal bersama-sama di pengungsian sehingga kegiatan mereka sehari-hari menjadi terganggu dan mereka tidak punya ruang pribadi. Apabila kita berencana menyediakan bantuan bagi korban yang tinggal di tempat pengungsian, maka kita wajib menjamin bahwa tempat pengungsian tersebut aman bagi semua orang. Berdasarkan data WHO (2010), salah satu risiko bagi anak yang tinggal dalam pengungsian terutama anak perempuan adalah potensi untuk mengalami kekerasan, eksploitasi, dan ditelantarkan. Selain itu, stigma terhadap individu yang mengalami masalah kesehatan jiwa juga masih sering terjadi.

Stigma adalah pandangan buruk dan sikap negatif terhadap orang atau kelompok tertentu. Stigma terhadap gangguan jiwa masih sangat besar. Kata-kata atau ungkapan yang merendahkan terhadap individu dengan gangguan jiwa masih sering terdengar dan membuat orang menjadi tidak nyaman. Seringkali masyarakat berpendapat bahwa orang dengan gangguan jiwa merupakan pribadi yang lemah atau “lemah imannya” dan tidak dapat beradaptasi dengan stres. Jika seseorang menderita gangguan jiwa, keluarga mereka seringkali menyangkal atau menyembunyikan masalah ini, seperti mereka malu atau takut dengan penilaian orang. Penting untuk diperhatikan bahwa tidak ada orang yang menghendaki atau meminta untuk menderita gangguan jiwa. Orang dengan gangguan jiwa membutuhkan perhatian, empati, dan dukungan yang tepat dari semua orang, termasuk masyarakat, petugas kesehatan, keluarga, dan sebagainya. Gangguan jiwa dapat ditangani sehingga orang dengan gangguan jiwa dapat kembali berfungsi dengan baik.

Oleh karena itu, kita perlu memikirkan beberapa prinsip dasar dalam bekerja untuk menjaga keamanan anak dan remaja, serta menghindari stigma di tempat pengungsian, seperti:

  • Orang dewasa perlu menyadari dan bertanggung jawab terhadap anak dan remaja di sekitar mereka.
  • Petugas kesehatan pada pengungsian perlu bekerja sama dengan penyedia layanan perlindungan bagi anak, kesejahteraan anak, dan penegak hukum.
  • Penegak hukum dan badan perlindungan anak perlu segera dilibatkan bila terdapat kecurigaan yang meru-gikan anak oleh orang dewasa.
  • Pengungsian harus memiliki pedoman bagi setiap staf dan relawan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan padabanak dan remaja.
  • Jika anak tidak bersama keluarganya, mereka harus mendapatkan perlindungan yang aman.
  • Identifikasi tokoh masyarakat yang bersedia untuk mendampingi anak agar mereka merasa aman.
  • Menyediakan pelatihan dukungan psikososial pertama bagi petugas dan relawan yang bekerja di tempat pengungsian.

Prinsip Deteksi Dini

Perubahan emosi dan perilaku dapat timbul pada anak dan remaja pascabencana. Kondisi ini merupakan respons yang wajar terhadap kejadian yang mengguncang. Bila berkepanjangan atau ekstrem, respons tersebut menjadi masalah emosi dan perilaku yang mungkin membutuhkan intervensi. Perubahan ini bertambah buruk bila anak tidak memahami dan tidak mengerti perubahan yang dialami, dan lingkungan sekitar tidak mendukung anak untuk mengatasi keadaan tersebut, misalnya gejala emosi yang mungkin dijumpai antara lain rasa sedih, cemas, uring-uringan, marah, apatis, ataupun campuran. Sedangkan, gejala perilaku dapat berupa mengurung diri dari lingkungan sekitar, agresif, kemunduran dari tahapan kemampuan yang telah diperoleh, kewaspadaan berlebihan, gugup, keluhan fisik tanpa penyebab yang jelas, gangguan konsentrasi yang dapat menurunkan prestasi belajar, gangguan tidur, membangkang, berkelahi, konsumsi alkohol, atau narkotika dan penyalahgunaan zat adiktif (NAPZA) hingga gangguan makan.

Perubahan emosi dan perilaku pada anak dan remaja dianggap berat jika sudah mengganggu rutinitas anak dalam kehidupan sehari-hari, seperti bermain, bersekolah, dan berhubungan dengan orang di sekitarnya. Oleh karena itu, deteksi dini penting untuk mencegah terjadinya dampak yang berat bagi kehidupan anak dan remaja setelah mengalami bencana. Prinsip deteksi dini adalah identifikasi gejala lebih awal, kemudian diikuti dengan suatu intervensi untuk melindungi atau membantu anak dan remaja terhadap kemungkinan terjadinya gangguan yang lebih berat akibat dari bencana yang dialaminya. Deteksi dini merupakan suatu strategi atau cara untuk membedakan anak dan remaja yang memerlukanpelayanan kesehatan jiwa di jenjang yang lebih rendah atau lebih tinggi. Beberapa hal yang berkaitan dengan terjadinya perubahan emosi dan perilaku dipengaruhi oleh faktor usia anak saat mengalami bencana.

Masalah Emosi dan Perilaku yang Umum Ditemui pada Anak dan Remaja yang Mengalami Bencana

Anak yang berusia di bawah orang yang mengasuh mereka untuk 6 tahun masih tergantung kepada mendapatkan perlindungan dan keamanan. Mereka seringkali menjadi tidak berdaya dan pasif saat berhadapan dengan situasi yang membahayakan keselamatan jiwa mereka. Anak-anak pada usia balita masih tidak mengerti makna kematian dan menganggap hal ini sama dengan perpisahan. Pola pikir mereka masih sangat konkret dan menganggap semua hal sama. Mereka berpikir orang yang sudah meninggal dapat kembali. Selain itu, mereka juga dapat ketakutan ketika kehilangan anggota keluarga yang selamat dari bencana.

Perilaku yang perlu diamati: 

  • Ketakutan terhadap kehadiran orang asing, suara keras, atau jika ditinggal sendirian.
  • Cemas perpisahan, mereka tampak tidak mau lepas dari orangtuanya atau pengasuhnya. Tampak rewel, takut tidur sendirian, merajuk, atau mengamuk bila ditinggal sendirian.
  • Berbagai macam masalah tidur, seperti terus terjaga sepanjang malam, mimpi buruk, dan mengigau karena mereka tidak mampu mengerti peristiwa yang menakutkan dari bencana yang di alaminya.
  • Kecemasan/ ketakutan yang menonjol jika berhadapan dengan situasi atau tempat yang berkaitan dengan peristiwa bencana yang dialami.
  • Mengalami kemunduran dalam berbagai tahap perkembangan yang sudah dikuasai sebelumnya, misalnya menjadi pendiam atau bahkan tidak mau berbicara sama sekali, mengompol, atau tidak dapat menahan buang air besar, serta kembali menghisap jempol.

Perubahan Emosi dan Perilaku yang Khas pada Anak Usia Sekolah Dasar (6-12 Tahun)

Anak-anak usia 6-12 tahun sudah mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam berpikir, berperilaku, dan memberikan tanggapan dalam menghadapi bencana. Mereka mampu mengingat suatu kejadian dengan baik dan benar, serta mengerti makna dari peristiwa yang menimpa mereka. Anak pada usia ini menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan sebagai akibat dampak bencana dengan cara berfantasi. Dalam fantasinya, mereka seolah-olah mampu mencegah kejadian buruk dan tidak menyenangkan akibat dari bencana tersebut. Dengan fantasi tersebut, anak seolah mampu melawan rasa tidak berdayanya. Hal ini seringkali tampak pada pola permainan atau cerita dari sang anak.

Di sisi lain, dengan kemampuan berpikirnya membuat anak lebih mudah merasa berdosa dan menyalahkan diri sendiri. Namun dalam kenyataannya mereka tidak dapat mencegah peristiwa tersebut sehingga mereka cenderung menyalahkan diri sendiri. Anak-anak di usia ini juga sudah memahami arti kematian yang sebenarnya. Mereka mengerti, kematian adalah akhir kehidupan. Mereka tidak berharap lagi orang yang sudah meninggal akan kembali lagi. INGAT: Anak pada usia terteptu belum tentu memiliki  kemampuan kecerdasan yang sama. Jadi, selalu pertimbangkan kemampuan kecerdasan anak selain usia kronologisnya. Contoh: anak berusia 10 tahun bisa saja memiliki kecerdasan di bawah usianya (5 tahun), misalnya pada anak tuna grahita/ retardasi mental. Sebaliknya. seorang anak usia 7 tahun bisa saja sudah berpikiran seperti anak yang lebih tua.

Perilaku yang harus diamati:

  • Sulit berkonsentrasi untuk mengikuti pelajaran di sekolah, Hal ini mengakibatkan turunnya prestasi belajar di sekolah. Kondisi disebabkan oleh ingatan mereka yang terpaku terhadap kejadian bencana yang dialam-inya serta dampak yang terjadi yang disertai dengan perasaan sedih atau cemas. Perhatian mereka menjadi terpecah sehingga tidak mampu memusatkan perhatiannya. Mereka juga mudah menjadi gelisah dan tidak mampu menyelesaikan tugas sekolah sehingga membuat mereka sulit belajar.
  • Kecemasan, berupa tingkah laku gugup seperti gagap, menggigit kuku, dan menjadi mudah tersinggung.
  • Masalah makan, misalnya penurunan nafsu makan.
  • Keluhan-keluhan fisik tanpa penyebab yang jelas.
  • Perilaku agresif dan memiliki banyak keinginan, misalnya menjadi sangat kasar dan ribut saat bermain atau bertingkah semaunya sendiri. Mereka tampak nakal seperti suka berteriak-teriak, menjerit-jerit atau merusak barang.
  • Menarik diri dan pasif, misalnya menjadi sangat pendiam. Mereka tidak mau mengungkapkan perasaannya, tidak mau bermain dengan teman sebayanya. Adanya tanda-tanda kesedihan atau mudah tersinggung
  • Bertingkah laku seperti anak yang lebih kecil, seperti mengompol kembali di malam hari, selalu ingin tidur bersama orangtuanya lagi

Reaksi Khas pada Remaja

Masa remaja adalah masa penuh dengan perubahan, baik dalam hal fisik maupun emosi. Remaja lebih mudah terpengaruh oleh kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarnya, temasuk dampak dari bencana yang dialaminya. Kondisi ini berkaitan dengan perkembangan di masa remaja, mereka sudah memiliki kematangan berpikir, mampu mengambil kesimpulan, serta dapat memahami akibat jangka panjang dari suatu kejadian bencana. Umumnya, remaja tidak mengatasi perasaan tidak nyaman dengan berkhayal/ bermain. Mereka sudah mampu menceritakan kejadian yang dialami dan perasaannya meskipun kadang masih memerlukan bimbingan dalam mengungkapkan perasaannya secara terbuka.

Di lain pihak, mereka sering kali ditimpa rasa bersalah karena tidak mampu berbuat sesuatu untuk mengubah peristiwa yang sudah terjadi atau tidak berusaha untuk mencegah kejadian tersebut. Sebagai contoh, saat orangtuanya meninggal akibat peristiwa bencana, seorang remaja dapat merasa bersalah karena ia bisa selamat sedangkan orangtuanya tidak, walaupun sebenarnya ia menyadairi bahwa kejadian itu tidak bisa dicegah. Seorang remaja seringkali terpaksa mengambil peran sebagai orang dewasa dalam menghadapi bencana walaupun emosi mereka belum matang seperti orang dewasa sesungguhnya. Bahkan, mereka sebenarnya masih membutuhkan bimbingan orang dewasa. Bagi remaja, teman sebaya dan tokoh masyarakat merupakan sosok penting yang dapat menjadi sumber dukungan sehingga mampu memberikan rasa aman dan ketenangan.

Perilaku yang harus diamati: 

  • Remaja dapat melakukan tindakan yang merusak dirinya sendiri sebagai cara untuk mengatasi rasa marah dan kesedihannya.
  • Remaja dapat terlibat dalam perbuatan berisiko tinggi setelah mengalami peristiwa bencana. Misalnya, berontak terhadap orang dewasa, menggunakan obat-obatan atau zat terlarang, bergabung dengan kelompok yang tidak baik, menjarah, atau mencuri. Hal ini adalah upaya meredam perasaan marah dan kecewa karena hilangnya dukungan yang ada di sekitamya.
  • Timbulnya gejala depresi, seperti menjadi tertutup, sedih berkepanjangan, mudah tersinggung, menarik diri, kehilangan minat dan hobi, penurunan konsentrasi belajar, dan selalu berpikir bahwa hal buruk akan menimpa mereka lagi.
  • Kecemasan dalam bentuk cemas terhadap masa depan dan keluhan fisik tanpa dasar penyakit fisik yang jelas.

Memahami Sistem Pelayanan Kesehatan Jiwa Berjenjang Dalam Menghadapi Anak dan Remaja di Daerah Bencana

Reaksi yang disebabkan oleh bencana tidak mudah dipahami dan diterima oleh semua orang. Tidak mengejutkan bila banyak anak menjadi takut dan bingung. Sebagai orangtua, guru, dan orang dewasa yang peduli, pendekatan terbaik yang dapat kita berikan adalah dengan mendengarkan dan menanggapinya dengan cara yang jujur, tulus, konsisten dan bersikap mendukung. Dengan menciptakan lingkungan yang terbuka membuat mereka menjadi mudah bertanya, kita dapat membantu mereka untuk beradaptasi dengan kejadian yang berisiko atau pengalaman  yang beresiko menyebabkan masalah emosional. Anak dan remaja membutuhkan dampingan lebih khusus dari tenaga profesional bila bencana sangat mengganggu kondisi keseimbangan emosi dan perilaku dan kegiatan rutin mereka (seperti sekolah, bermain, berhubungan dengan orang di sekitarnya), terutama jika hal itu berlangsung cukup lama dan disertai dengan perubahan sikap anggota keluarga, guru, dan teman sebaya. Dalam usaha untuk membantu anak dan remaja di daerah bencana, harus ada kerjasama dari berbagai tingkat di masyarakat, termasuk pekerja kesehatan, tenaga pengajar, pekerja sosial, organisasi swasta dan umum yang bekerja dalam bidang kesehatan dan kesejahteraan rakyat, sebagaimana juga orangtua mereka. Masing-masing memiliki peran tertentu dan harus bekerja bersama dan mendukung berbagai usaha untuk mengembalikan masa depan anak seoptimal mungkin. Untuk itu sangat penting memahami prinsip pendekatan dukungan psikososial dan kesehatan jiwa dalant masyarakat yang berjenjang. Hal ini ditekankan oleh Inter-Asency Standing Committee Task Force on Mental Health and Psychosacial Support in Entersency Settinss (2007). Pendekatan ini memperhatikan dukungan psikososial dan kesehatan jiwa yang berjenjang berdasarkan peran masing-masing pihak dalam masyarakat, antara lain:

1.  Pelayanan dasar dan keamanan

Hal ini mencakup perlindungan umum dan penyediaan kebutuhan dasar seperti makan, minum, dan tempat tinggal. Hal ini mendukung dan melindungi kesejahteraan psikososial dan mencegah masalah kesehatan jiwa. Contoh: Hal ini mencakup kesiap-siagaan dan persiapan umum darurat bencana, termasuk adanya peringatan dini dan tim reaksi cepat yang memastikan tersedianya kebutuhan dasar anak, remaja dan masyarakat di daerah bencana.

2. Dukungan kesehatan jiwa dalam keluarga dan masyarakat bertujuan menyediakan dukungan bagi anak dan remaja sesegera mungkin. Fase pertama ini fokus pada meningkatkan kapasitas keluarga dan anggota masyarakat untuk mampu menyediakan dukungan psikososial bagi anak dan remaja di daerah bencana. Pendidik, pekerja kesehatan, pekerja sosial, serta organisasi pemerintah dan non-pemerintah bekerja bersama pada kesehatan dan kesejahteraan anak. Dukungan dari orangtua, penjaga anak, ataupun relawan yang terlatih juga penting. Contoh: Bencana gempa bumi terjadi di kota yang telah mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas kesehatan jiwa terkait bencana. Guru di sekolah telah mengajarkan tentang gempa bumi kepada muridnya dan bagaimana supaya tetap aman. Anak-anak tahu apa yang harus mereka kerjakan dan tidak bingung maupun takut. Anggota masyarakat dengan cepat berkumpul kembali anak-anak dengan keluarganya, mengetahui bahwa hal ini penting agar anak dapat cepat beradaptasi dan merasa aman. Orangtua mengetahui cara mendengarkan anak, memberi kesempatan bagi anak menceritakan perasaannya, dan membantu anak beradaptasi dengan perubahan yang terjadi akibat bencana.

3. Pelayanan kesehatan jiwa tingkat primer bertujuan untuk menyediakan konseling dan dukunga psikososial yang lebih spesifik atau terapi psikososial lainnya bagi anak dan remaja yang membutuhkan. Fase ini hampir selalu dikerjakan oleh tenaga profesional yang terlatih dalam bidang kesehatan jiwa. Contoh: Sejak ibunya meninggal karena gempa bumi, Andi, 6 tahun, mulai mengompol lagi. la juga mengalami mimpi buruk dan menolak pergi ke sekolah. la selalu mengikuti ayahnya, dan setiap kali mereka mengalami guncangan kecil, ia akan berteriak dan teringat kejadian sebelumnya seolah-olah hal tersebut terjadi lagi. Ayahnya menyadari bahwa Andi membutuhkan pertolongan medis. Tenaga kesehatan yang tinggal di dekatnya menyarankan kepada ayahnya agar Andi dibawa ke pusat layanan kesehatan primer (contoh: puskesmas). Perawat dan dokter di pusat layanan kesehatan primer ini membantu Andi dengan menyediakan layanan kesehatan jiwa yang tepat yang membantunya mengatasi gejala-gejala pascatrauma.

4.  Pelayanan kesehatan jiwa sekunder atau tersier bertujuan menyediakan tenaga spesialis kesehatan jiwa yang tidak terbatas pada farmakoterapi (obat), psikoterapi, dan pendekatan yang lebih khusus. Fase ini ditangani oleh psikiater anak, psikiater umum/ psikolog klinis. Contoh: Lisa adalah saudari dari ibunya Andi (kasus di atas). Lisa berusia 16 tahun, dan harus meninggalkan sekolahnya untuk mengasuh keluarga saat ayah Andi kembali bekeria. Dalam beberapa bulan sesudah gempa bumi. Lisa menjadi sering sangat sedih. Akhir-akhir ini ia menolak makan, merawat Andi maupun dirinya sendiri, dan mengurung diri di kamar. Dia merasa dirinya tidak lagi berharga untuk hidup, dan mempertimbangkan cara-cara untuk mengakhiri hidupnya. Teman-temannya datang mengunjungi dan memperhatikan kondisinya. Mereka menyadari bahwa Lisa memiliki kondisi yang membutuhkan spesialis kesehatan jiwa dan membawanya ke puskesmas, yang kemudian merujuknya ke rumah sakit jiwa untuk diobati. Lisa didiagnosis dengan gangguan depresi, diobati dengan tepat, dan dalam beberapa minggu dapat kembali ke rumah dan berfungsi seperti sebelumnya. Dukungan dari pekerja sosial dan sekolah lokal, Lisa dan Andi dapat kembali bersekolah. Lisa pergi kunjungan rutin, meminum obat secara teratur, merasa lebih baik dan senang.

Deteksi Dini Masalah Emosi dan Perilaku pada Anak dan Remaja

Setelah memahami dampak bencana terhadap kesehatan jiwa anak dan remaja, serta pentingnya membangun resiliensi. Bagian ini membahas deteksi dini masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja. Salah satu instrumen yang dapat digunakan adalah kuesioner kekuatan dan kelemahan pada anak dan remaja (Strength and Difficulties Questionnoire/ SDQ).  Masalah kesehatan jiwa merupakan masalah yang berhubungan dengan cara berpikir, perasaan, dan bersikap. Masalah tersebut menyebabkan penderitaan bagi anak dan hendaya dalam fungsi setiari-hari. Anak dan remaja,.sebagaimana juga dengan orang dewasa dapat mengalami kondisi tersebut yang secara klinis penting bagi profesional kesehatan jiwa. Walaupun demikian, baik masalah Srang dianggap ‘bermakna secara klinis” mauplin tidak bermakna tetap membutuhkan dukungan untuk membantu anak dan remaja agar dapat mengelola pikiran, perasaan, dan perilaku mereka pascabencana. Jenis dan sumber dukungan yang dibutuhkan berbeba-beda bergantung derajat beratnya masalah mereka dan sumber daya yang ada. Contoh: Pada kasus Andi, kondisi Andi merupakan kondisi yang normal yaitu ingin selalu dekat dengan orangtuanya selama bencana. Dalam hal ini, masalahnya adalah bencana yang menimbulkan perubahan keseimbangan alam kehidupan sehari-hari Andi sehingga Andi bereaksi seperti itu. Dengan demikian, orangtua perlu memberikan dukungan, rasa aman dan nyaman bagi Andi. Jika akhirnya Andi tidak dapat kembali bersekolah karena takut berpisah dengan orangtuanya, yang disebabkan ketidakmampuan Andi untuk mengatur pikiran, perasaan, dan perilakunya. Kondisi ini menjadi masalah kesehatan jiwa yang tidak dapat ditangani hanya oleh orangtua saja, dan meemerlukan penanganan mendalam yang melibatkan sistem pelayanan kesehatan jiwa berjenjang, misalnya pelayanan kesehatan jiwa primer atau tersier.

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, gangguan jiwa didefinisikan sebagai berikut: Kumpulan gejala yang ditandai oleh gangguan klinis yang bermakna pada pikiran regulasi emosi (mengelola perasaan), atau perilaku seseorang, yang mencerminkan adanya gangguan fungsi pada proses psikologis, biologis, atau perkembangan yang mendasari fungsi mental. Gangguan jiwa biasanya berhubungan denga penderitaan fisik (distres yang bermakna atau hendaya dolam kehidupan sosial pekerjaan atau kegiatan penting lainnya.

Bencana dan Kesehatan Jiwa: Bagaimana Bencana Dapat Memengaruhi Pertumbuhan Anak dan Remaja?

Anak dan remaja bukanlah orang dewasa kecil karena mereka masih bertumbuh dan berkembang. Mereka memiliki karakteristik yang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan usianya. Dalam hubungan untuk mencapai perkem-bangan yang optimal diperlukan lingkungan yang dapat mendukung proses tersebut. Bencana memengaruhi lingkungan anak dan remaja, sehingga pada akhirnya mempengaruhi pertum-buhan dan perkembangan mereka.

Kebutuhan anak dan remaja adalah:

  1. Anak membutuhkan rasa aman, terutama secara psikologis.
  2. Setiap anak perlu mempunyai harga diri.
  3. Setiap anak perlu merasa dan mengalami bahwa hidupnya layak dijalani, memuaskan, menarik,  dan dapat dipercaya.
  4. Anak membutuhkan kehadiran orang dewasa atau anak yang lebih tua untuk membantunya memahami pengalaman mereka.
  5. Anak harus mempunyai sosok orang dewasa yang berkuasa karena pengalaman dan pengetahuan yang lebih banyak serta lebih bijaksana.
  6. Anak perlu berhubungan dengan orang dewasa dan anak yang lebih tua sebagai contoh perilaku yang ingin dikembangkan pada dirinya.
  7. Anak perlu berhubungan dengan orang dewasa yang untuk dapat menunjukkan sesuatu yang layak dilakukan, dimiliki, diketahui, dan  diperhatikan/ dijaga.

Seperti yang dijabarkan dalam Pedoman pelaksanaan:  Stimulasi, deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang anak di tingkat pelayanan kesehatan dasa (Depkes RI, 2006), usia anak merupakan faktor yang sangat penting dan patut diperhatikan secara khusus, karena usia anak akan mempengaruhi:

  1. Cara anak memahami dan mengerti arti dan makna dari suatu kejadian bencana yang dialaminya.
  2. Cara anak bereaksi terhadap kejadian bencana yang dialaminya.
  3. Cara anak mengerti pertolongan yang diberikan kepadanya.

Rujukan tersebut juga menjabarkan bagaimana kemampuan masing-masing anak untuk menghadapi bencana berbeda-beda, tergantung pada tahap usia perkembangan mereka, seperti cara berpikir, kematangan emosional, serta kemampuan mereka untuk menjalin hubungan sosial. Otak anak dan remaja berbeda dengan otak orang dewasa. Otak anak dan remaja bersifat lebih plastis (masih bisa berubah). Perkembangan otak dipengaruhi oleh pengalaman terhadap lingkungan dan faktor potensial lainnya seperti zat yang berbahaya. Plastisitas otak memiliki efek positif dan negatif dalam proses perkembangan anak. Efek positifnya adalah otak mereka menjadi lebih terbuka terhadap pembelajaran dan pengayaan. Efek negatifnya adalah otak menjadi lebih sensitif pada lingkungan, misalnya lingkungan yang tidak mendukung sebagai hasil dari danya keadaan bencana.

Ciri dan Prinsip Tumbuh Kembang Anak

Proses tumbuh kembang anak mempunyai beberapa ciri-ciri yang saling berkaitan. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pertumbuhan dan Perkembangan Menimbulkan Perubahan Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, dapat diukur dengan satuan panjang dan berat. Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan antara susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem otot saraf, kemampuan bicara, emosi, dan sosialisasi. Setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi, contohnya pertumbuhan otak dan serabut saraf akan disertai perkembangan kecerdasan seorang anak.

2. Pertumbuhan dan Perkembangan Tahap Awal Menentukan Perkembangan Selanjutnya. Setiap anak tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya. Sebagai contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri. Seorang anak tidak akan bisa berdiri bila pertumbuhan kaki dan bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri anak terhambat. Karena itu perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena menentukan perkembangan selanjutnya.

3. Pertumbuhan dan Perkembangan Mempunyai Kecepatan yang Berbeda. Terdapat perbedaan kecepatan pada pertumbuhan dan perkembangan, baik itu pertumbuhan fisik maupun perkembangan fungsi organ dan perkembangan pada masing-masing anak.

4. Perkembangan Memiliki Tahap yang Berurutan. Tahap perkembangan seorang anak mengikuti pola yang teratur dan berurutan. Tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak terlebih dahulu mampu membuat lingkaran sebelum mampu membuat gambar kotak, anak mampu berdiri sebelum berjalan dan sebagainya.

Proses tumbuh kembang anak juga mempunyai prinsip-prinsip yang saling berkaitan, yaitu:

1. Perkembangan adalah hasil proses kematangan dan belajar. Kematangan merupakan proses intrinsik yang terjadi dengan sendirinya, sesuai dengan potensi yang ada pada individu. Belajar merupakan perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Melalui belajar, anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang didapatkan dan potensi yang dimiliki anak.

2. Pola perkembangan dapat diramalkan. Anak-anak secara umum berkembang sesuai pola yang bersifat universal. Dengan demikian perkembangan seorang anak secara umum dapat diramalkan, meskipun setiap anak berbeda. Perkembangan berlangsung dari tahapan umum ke tahapan spesifik, dan terjadi secara berkesinambungan. Perkembangan anak ditandai oleh tahapan yang umumnya dicapai. pada rentang usia-usia tertentu dan bisa diamati oleh orangtua dan lingkungan sekitar. Tahapan ini adalah sesuatu yang diharapkan dicapai pada tahap perkembangan anak sesuai dengan usianya. Misalnya, anak pada umumnya belajar duduk pada usia 6 bulan dan berjalan sekitar usia 1 tahun. Bila pada usia 2 tahun seorang anak belum bisa berjalan, mungkin ada sesuatu masalah yang perlu diperiksakan.

Teori Perkembangan Psikososial Anak dan Remaja Menurut Erikson

Perkembangan psikososial menurut Erik Erikson ditampilkan secara khusus karena paling berkaitan dengan perkembangan emosi dan perilaku anak, sehingga mempengaruhi bagaimana anak memahami bencana dan dampaknya. la menjelaskan mengenai 8 tahap perkembangan psikososial. Masing-masing tahap perkembangan memiliki tugas yang harus diselesaikan. Perkembangan psikososial terus berlanjut walaupun tahapan tersebut belum terselesaikan dengan konsekuensi dapat terjadinya gangguan penyesuaian atau peningkatan kekuatan dalam diri seseorang. Menurut Erikson, konflik adalah proses yang terjadi dalam perkembangan yang membentuk pribadi seseorang. Penyelesaian tahapan akan tertunda bila anak atau remaja mengalami tekanan/ konflik pada periode waktu tersebut.

  • Usia 0-1 tahun: Anak belajar membentuk kepercayaan terhadap dunia sekelilingnya. Jika terselesaikan, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang punya harapan terhadap dunia sekelilingnya. Pengasuhan yang baik adalah modal yang kuat pada tahap ini. Adanya bencana dapat membuat anak merasa dunia tidak aman, tetapi dengan adanya orang dewasa yang menolong, menjaga dan merawat anak dalam keadaan bencana, anak dapat tetap meradsa bahwa ancaman dalam kehidupan masih bisa diatasi.
  • Usia 2-3 tahun: Pada usia ini, anak akan menjadi suka menjelajah dan mencoba berbagai hal. Jika tahap pertama dilalui dengan baik, maka muncul rasa ingin tahu yang besar dalam diri anak terhadap sekelilingnya sehingga lingkungan yang memberi ruang/kebebasan baginya untuk bereksplorasi agar tumbuh jadi pribadi yang punya keinginan. Dalam keadaan bencana atau di pengungsian, terkadang ruang gerak anak menjadi lebih terbatas, atau para pengasuh/ orangtua bisa cenderung lebih protektif terhadap anak. Untuk perkembangan yang baik, anak memerlukan ruang untuk bereksplorasi dan belajar.
  • Usia 4-5 tahun: Di usia ini anak perlu mengembangkan inisiatifnya agar tumbuh menjadi pribadi yang memiliki tujuan hidup. Untuk itu, diperlukan lingkungan yang memberi kesempatan padanya untuk berinisiatif dan bukannya lingkungan yang serba menyalahkan tiap kali anak berusaha melakukan sesuatu sehingga menjadi anak yang dipenuhi rasa bersalah. Anak dapat menyalahkan dirinya sendiri karena kejadian bencana atau kehilangan yang terkait dengan bencana.
  • Usia 6-11 tahun: Jika masa-masa sebelumnya dilalui dengan baik dan anak mendapat lingkungan perkembangan yang mendukung, maka anak pada usia sekolah dasar mempunyai kebutuhan untuk menunjukkan kemampuannya. la perlu punya kesempatan untuk produktif dan lingkungan yang memberi dukungan yang positif atas usaha anak untuk produktif di bidang apapun yang dikuasainya (tidak saja matematika, tapi bisa juga bahasa, olahraga, seni, kepemimpinan, dan sebagainya), agar anak dapat menjadi pribadi yang kompeten. Kesinambungan bersekolah merupakan kondisi yang sangat penting bagi anak, karena itu dalam keadaan pascabencana, memulai kembali sekolah dapat membantu anak untuk menikmati kebersamaan dengan anak-anak lain seusianya dan tidak ketinggalan dalam perkembangan dan pendidikannya.
  • Usia 12-18 tahun: Dengan bekal dari tahap-tahap sebelumnya, kini seorang remaja dengan bantuan lingkungannya akan membentuk identitas diri yang mantap (misalnya: saya adalah orang yang jago olahraga walaupun agak lemah dalam matematika), atau sebaliknya yaitu tak mengerti siapa dirinya karena ia tak menyadari apa yang dikuasainya dan siapa temannya. Dukungan teman sebaya penting pada tahapan ini. Kehilangan teman-teman yang menjadi korban bencana atau mengungsi karena bencana dapat menjadi pukulan yang besar bagi anak usia remaja, namun mereka bisa dibantu untuk membentuk persahabatan baru dengan remaja lain yang dapat memahami pengalamannya dan saling mendukung dalam perkembangan dan pendidikan.