Antara Pola Asuh Orangtua dan Kematangan Emosi Remaja

Lingkungan yang kondusif, diwarnai oleh hubungan yang harmonis, saling mempercayai, saling menghargai, dan penuh tanggung jawab, berperan penting dalam membentuk karakter remaja untuk mencapai kematangan emosinya.

Masa remaja dimulai sekitar usia 10 hingga 13 tahun dan berakhir pada sekitar usia 18 hingga 22 tahun. Pada rentang usia ini dikenal dengan adolescence (masa remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”. Dalam arti yang lebih luas, mencakup kematangan emosional, mental, sosial dan fisik, dimana masa remaja merupakan masa transisi dalam rentang kehidupan manusia yang menghubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa.

Masa remaja juga merupakan titik puncak emosionalitas, dimana terjadi perkembangan emosi yang tinggi, salah satunya terdapat pada pertumbuhan fisik remaja, terutama organ-organ seksual yang mempengaruhi berkembangnya emosi atau perasaan-perasaan dan dorongan-dorongan baru yang dialami sebelumnya, seperti perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan jenis.

Perkembangan fisik yang dialami juga membuat mereka seringkali mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan. Tidak jarang mereka cenderung menyendiri, merasa terasing, merasa kurang perhatian, atau bahkan merasa tidak ada orang yang memperdulikannya. Mereka juga cenderung mengalami kesulitan untuk mengontrol diri, misalnya menjadi cepat marah. Perilaku ini terjadi karena adanya kecemasan terhadap dirinya sendiri sehingga muncul reaksi yang kadang-kadang tidak wajar/ negatif. Kecemasan tersebut dapat menampilkan perilaku yang menunjukkan bahwa remaja tidak dapat mengontrol emosinya dengan baik, karena mereka belum mencapai kematangan emosi pada masa ini.

Kematangan emosi adalah suatu kondisi mencapai perkembangan pada diri individu dimana individu mampu mengarahkan dan mengendalikan emosi yang kuat agar dapat diterima oleh diri sendiri maupun orang Lain. Seorang remaja dikatakan telah memiliki kematangan emosi bila ia memiliki karakteristik kematangan emosi berikut;

(1) mudah mengalirkan cinta dan kasih sayang;

(2) mampu menghadapi kenyataan;

(3) kemampuan menilai secara positif pengalaman hidup;

(4) mampu berfikir positif mengenai diri pribadi;

(5) penuh harapan;

(6) ketertarikan untuk memberi;

(7) kemampuan untuk belajar dari pengalaman;

(8) kemampuan menangani permusuhan konstruktif;

(9) berfikir terbuka.

Maka dapat dikatakan apabila remaja memiliki kematangan emosi yang baik, ia akan mampu berperilaku sesuai dengan karakteristik kematangan emosi tersebut. Sebaliknya, remaja yang tidak memiliki kematangan emosi akan melakukan perilaku sebaliknya. Intinya remaja yang memiliki kematangan emosi akan mampu melakukan kontrol terhadap emosinya. Remaja yang lebih matang secara emosional masih akan mengalami kesedihan, marah, dan takut tetapi mereka akan lebih mampu menenangkan diri mereka sendiri, bangkit dari kemurungan dan dapat melanjutkan kegiatan-kegiatan produktif dengan baik.

Pengaruh Faktor Lainnya

Meskipun memiliki peran dasar, pada perkembangannya, kematangan emosi remaja tak hanya tergantung pada pola asuh orang tua saja, namun juga faktor pendukung lainnya. Karena pada kenyataannya, umumnya orang tua tidak hanya menjalankan satu pola pengasuhan secara mutlak. Pola asuh otoriter seluruhnya, otoritatif seluruhnya, mengabaikan seluruhnya, atau memanjakan seluruhnya. Ini menandakan tidak adanya pola asuh murni yang diterapkan oleh orangtua kepada anak. Artinya tidak hanya jenis pola asuh orangtua saja yang menjadi faktor tercapainya kematangan emosi pada usia remaja, tetapi masih ada faktor lainnya seperti lingkungan teman sebaya, pengalaman, pengaruh dunia luar dan kebudayaan.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kematangan emosi selain pola asuh orangtua dan jenis kelamin, seperti pengalaman traumatik, temperamen, dan usia. Kejadian-kejadian traumatis masa lalu dapat mempengaruhi perkembangan emosi seseorang. Temperamen dapat didefinisikan sebagai suasana hati yang mencirikan kehidupan emosional. seseorang. Pada tahap tertentu masing-masing individu memiliki kisaran emosi sendiri-sendiri, dimana temperamen merupakan bawaan sejak lahir, dan merupakan bagian dari genetik yang mempunyai kekuatan hebat dalam rentang kehidupan manusia.

Meski kematangan emosi seseorang perkembangannya seiring dengan pertambahan usia, akan tetapi faktor fisik-fisiologis juga belum tentu mutlak sepenuhnya mempengaruhi perkembangan emosi, karena kematangan emosi merupakan salah satu fenomena psikis, baik faktor pola asuh keluarga, lingkungan sosial, pendidikan dan sebagainya.

Mencapai kematangan emosi merupakan tugas perkembangan yang sangat sulit bagi remaja. Proses pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-emosional lingkungannya, terutama lingkungan keluarga dan kelompok teman sebaya. Apabila lingkungan tersebut cukup kondusif, artinya kondisinya diwarnai oleh hubungan yang harmonis, saling mempercayai, saling menghargai, dan penuh tanggung jawab, maka remaja cenderung dapat mencapai kematangan emosinya.

Sebaliknya apabila kurang untuk memahami peran-perannya dan kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orangtua dan pengakuan dari teman sebaya, mereka cenderung akan mengalami kecemasan, perasaan tertekan atau ketidaknyamanan emosional.

Peran Pola Asuh Orang Tua

Pembentukan kematangan emosi tidak lepas dari peranan pota asuh orangtua, karena orangtua adalah orang pertama yang memitiki peranan dalam mengatur dan mendidik seorang remaja untuk memperoleh kematangan emosi yang baik. Masalah emosi yang terjadi pada remaja dapat diakibatkan salah satunya oleh pola asuh orangtua.

Pola asuh adalah pola sikap atau perlakuan orangtua terhadap remaja yang masing-masing mempunyai pengaruh tersendiri terhadap perilaku remaja antara lain terhadap kompetensi emosional, sosial, dan intelektual. Terdapat tiga pola asuh orangtua terhadap remaja dimana masing-masing memiliki kontribusi yang penting dalam pembentukan karakter anak. Pola asuh tersebut yaitu authoritative, authoritarian dan permissive

• Pola Asuh Authoritative

Pola Asuh Authoritative

Orangtua yang authoritative akan memiliki sikap acceptance dan kontrol yang tinggi terhadap remaja, bersikap responsif terhadap kebutuhan remaja, mendorong remaja untuk menyatakan pendapat atau pertanyaan dan memberikan penjelasan tentang dampak perbuatan yang baik dan yang buruk.

Remaja yang diasuh dengan pola asuh authoritative mampu menghindari permusuhan karena pola asuh orangtua yang selalu menjelaskan mengenai dampak perbuatan baik dan buruk kepada dirinya, remaja mudah mengalirkan cinta dan kasih sayang karena sikap responsif dan acceptance yang diterima dari kedua orangtuanya, serta mampu berfikir positif mengenali pribadinya. Remaja yang diasuh menggunakan pola asuh authontative akan memiliki sikap optimis, berprestasi di sekolah, bertanggung jawab, serta lebih berkompeten dibandingkan teman-temannya.

  • Pola Asuh Authoritarian
Pola Asuh Authoritarian

Orangtua yang authoritarian akan memiliki sikap acceptance yang rendah namun kontrolnya tinggi terhadap remaja, suka menghukum secara bersifat mengomando, bersikap kaku (keras), dan cenderung emosional serta bersikap menolak.

Pola asuh authoritarion ini berdampak kurang baik pada kemampuan remaja dalam melakukan pengontrolan emosi, karena pola asuh yang diterima remaja di rumah cenderung emosional dan keras sehingga akan merasa tidak nyamam mengalami tekanan, mudah mengalami stres, memiliki sikap pencemas, emosi yang tidak stabil, penakut, pendiam serta tertutup, dan cenderung tebth mudah terpengaruh untuk melakukan pelanggaran norma sehingga tingkat kematangan emosi remaja sangatlah rendah.

Dalam penelitian, orangtua yang menggunakan pola asuh authoritarian lebih mengharapkan remaja mereka memiliki kekuatan yang tinggi dan mengikuti settap perkataan mereka, sehingga remaja yang memperoleh pola asuh authoritarian cenderung memitiki perilaku negatif kepada orang lain dikarenakan tuntutan dari orangtua yang mengharuskan mereka memiliki kekuatan.

• Pola Asuh Permissive

Pola Asuh Permissive

Orangtua yang permissive akan memiliki sikap acceptance, yang tinggi namun kontrolnya rendah terhadap remaja dan memberikan kebebasan kepakda remaja untuk menyatakan dorongan atau keinginannya.

Pola asuh permissive yang diterapkan orangtua akan membuat remaja memitiki kontrol emosi yang rendah dan kecenderungan memiliki perilaku agresif, hal ini dikarenakan kontrol perilaku orangtua rendah terhadap temaja dan membuat remaja memiliki rasa takut akan metanggar peraturan. Sehingga akan berdampak seringnya remaja mengalami permusuhan baik itu di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan masyarakat.

Pola asuh permissive yang diterapkan otangtua bisa membuat remaja menjadi tidak patuh, manja, kurang dan mau menang sendiri. Sehingga, jika mereka dihadapkan pada kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginannya, akan mudah memberontak, menangis dan meratapi kenyataan tersebut tanpa dapat menerimanya. Remaja yang diasuh menggunakan pola asuh yang permisive akan memiliki sikap suka memberontak, memiliki rasa pengendalian diri yang rendah, tidak jeslas arah hidupnya dan kurang percaya diri.

Berdasatkan urasan atas mengenai pola asuh authoritative, authoritarian dan permissive, pola asuh authoritative lebih membawa dampak positif bagi perkembangan remaja. Remaja yang memperoteh pola asuh authoritative dari orangtuanya akan memitiki perkembangan emosional yang positif, bersikap bersahabat, memiliki rasa percaya diri, mampu mengendalikan diri, bersikap sopan, mau bekerja sama, berprestasi di sekolah, bertanggung jawab, dan lebih berkompeten dibandingkan teman-temannya

Reminiscence Therapy

Menceritakan kenangan yang berkesan tentu menjadi hal yang menyenangkan untuk siapapun tanpa terbatas usia. Mengenang hal hal yang membanggakan bisa meningkatkan harga diri. Mengenang orang orang terkasih mampu memunculkan rasa memiliki dan Pun mengenang hal ne hal menyedihkan kadang juga mampu menumbuhkan rasa syukur bahwa kita ternyata pernah berhasil melaluinya.

Pada era sebelum 1950-an, seorang lansia yang terus menerus mengungkapkan kenangan masa lalu dianggap menunjukkan gejala negatif yang dihubungkan dengan penurunan fungsi mental. Hingga kemudian Erik Erikson memperkenalkan delapan tahap pertumbuhan psikososial yang menunjukkan perkembangan hidup seseorang dari Lahir hingga kematian. Di tahap ke delapan yaitu masa dewasa akhir, dengan tahap integrity vs dispair (merasa lengkap vs kehilangan harapan), pada tahap ini justru menjadi penting bagi seorang lansia untuk melihat masa lalunya dengan penuh kepuasan sebelum ia meninggal. Ide untuk menjadikan reminiscence sebagai kegiatan terapeutik diusulkan oleh Dr. Robert Butler, seorang psikiater spesialis geriatri pada 1963. la mempublikasikan sebuah makalah tentang hal in hal penting seputar life review dan reminiscence therapy.

Definisi Reminiscence Therapy
Reminiscence therapy adalah intervensi non farmakotogis yang mampu meningkatkan harga diri dan memfasilitasi lansia untuk rasa puas dan nyaman ketika mereka mengenang masa lalu. Meskipun membahas tentang masa lalu, namun kegiatan ini mendorong lansia untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan pendengarnya saat ini. Sesi reminiscence bisa dalam bentuk formal, informal, individu (satu terapis satu klien) maupun dalam group setting. Reminiscence therapy sebagai sebuah intervensi dengan mengingat pengataman peristiwa masa lalu dengan tujuan untuk meningkatkan adaptasi ktien saat ini, meningkatkan kuatitas hidup dan kepuasan individu. Dalam perkembangannya, beberapa riset menggunakan reminiscence untuk terapi pada klien lansia yang mengatami depresi, kecemasan, dementia, atau gejala ringan mild cognitif impairment. Atau menggunakan reminiscence therapy sebagai psikoterapi untuk meningkatkan kualitas hidup klien lansia.
Beberapa riset dari 1999 – 2015 melaporkan menggunakan reminiscence therapy untuk 6-12 minggu dengan 1-2 sesi/minggu antara 30-60 menit per sesi dengan kelompok klien terdiri 6-10 orang per kelompok yang tinggal dalam 1 panti.

Manfaat Reminiscence Therapy
Dari beberapa riset, menunjukkan beberapa manfaat reminiscence bagi klien antara lain; menurunkan depresi; menurunkan gejala gangguan prilaku; mengurangi apathy; meningkatkan rasa tertarik, perhatian dan rasa nyaman; meningkatkan interaksi sosial; meningkatkan rasa sehat; meningkatkan kuatitas hidup; serta dapat melatih kognitif.
Di samping manfaat tersebut, reminiscence berpotensi membangkitkan memori yang menyedihkan atau menimbulkan distress. Beberapa klien mungkin bisa menjadikan memori ini menjadi hal yang membangun. Lakukan validasi, berikan motivasi dan distraksi agar klien berfokus pada memori yang menyenangkan. Dalam beberapa kasus, akan lebih baik untuk menghindari topik yang berpotensi menimbulkan distress. Oleh karena itu, diperlukan assesmen sebelum terapis akan membuat program reminiscence therapy untuk lansia, karena reminiscence adalah Person-Centered Therapy, maka terapis perlu mengetahui tentang; profil klien berupa identitas klien, riwayat keluarga, kesenangan dahulu dan sekarang, peristiwa hidup yang berkesan, riwayat pekerjaan, kepercayaan, riwayat trauma untuk menghindari topik tertentu, makanan kesukaan, kebiasaan sehari-hari,serta jejak Rekam Medis: riwayat progres note bila klien di rumah sakit atau nursing home.

Bagaimans Reminiscence Therapy dilakukan ?
Sebelumnya, diperlukan identifikasi topik yang akan digunakan untuk Reminiscence. Sebagai contoh dapat dilakukan identifikasi dengan menggunakan beberapa pertanyaan di bawah ini;
Apakah kenangan yang klien sukai untuk diceritakan?
Apakah peran-peran penting yang pernah dilakukan klien dalam hidupnya? (misal menjadi, istri/suanti, menjadi ibu/ayah)
Apakali yang biasa dibicarakan dengan keluarga dan teman?
Apakah hal-hal menarik yang ingin dibicarakan klien yang berkaitan dengan minat? (misal hobi, pekerjaan, benda-benda seni)
Apakah memori yang menimbulkan distres bila dibicarakan dengan klien? (misal tentang anak karena anak sudah meninggal, dll).

Selanjutnya, seorang Therapis perlu menguasai teknik komunikasi spesifik, yaitu :
Dengarkan klien dan berikan perhatian penuh. Pertahankan senyum dan kontak mata. Perlihatkan bahasa non verbal yang menunjukkan terapis menikmati cerita klien.
Observasi respon verbal dan non verbal klien. Terapis perlu waspada terhadap “overloading atau overstimulation” yang bisa menyebabkan distress, bingung bahkan agitasi.
Jangan men-judge klien. Hindari menyalahkan klen bila daya ingat mereka tidak akurat.
Sabar, rileks dan bangun komunikasi. Jangan tergesa—gesa. Berikan kesempatan klien berproses, mungkin klien butuh waktu untuk sejenak mengingat.
Terapis menggunakan kalimat yang sederhana dalam menyampaikan sesuatu. Sensitif terhadap cerita klien. Ketika muncul memori yang tidak menyenangkan, beri support agar klien bisa melewati proses bercerita.
Mengulang ungkapan klien untuk meruntutkan cerita. lni dipakai untuk klien dengan lompat pikir.
Fleksibel terhadap topik. Ketika klien tiba-tiba tidak mau bercerita sesuai dengan topik yang telah dikontrak.
Bicara dengan lembut dan nada yang bersahabat.
Gunakan humor untuk selingan.
Selalu ingat bahwa tujuan reminiscence adalah untuk kenyamanan, percakapan yang bermakna dan keeratan. Jadi bukanlah sebuah masalah ketika klien keliru dalam menyampaikan cerita, lupa tanggal atau nama, yang penting mereka menikmati terapi. Pilih topik bervariasi sesuai minat klien.

Melibatkan Indera Klien
Sensori bersama dengan Persepsi menjadikan seseorang mengerti apa yang terjadi di sekitar dan memberikan respon yang sesuai. Menggunakan benda—benda untuk merangsang sensori—persepsi
akan memudahkan reminiscence. Misalnya ; menceritakan keluarga dengan memakai foto, menceritakan masa kecil sambil bermain dakon, membawa boneka, menceritakan masa remaja sambil mendengarkan musik era klien remaja, menceritakan cara memasak makanan favorit sambil melihat gambar-gambar masakan, serta dapat diberikan pengharum ruangan atau masase agar klien rileks, juga sangat membantu klien agar menikmati proses terapi.
Lalu bagaimana dengan klien yang mengatam gangguan pada panca inderanya? Untuk klien dengan gangguan ini, therapis dapat;
Klien gangguan pendengaran bisa memakai white board, tulisan, gambar.
Klien gangguan penglihatan memakai benda — benda yang bisa disentuh, bercerita, mendengarkan musik.
Klien yang sensitif terhadap kebisingan bisa dilakukan inciividual reminiscence dalam ruangan yang tenang.
Klien yang cenderung lebih mudah berfokus pada stimulasi taktil (misal : klien demensia suka memilin — milin kain atau memegang-megang benda) bisa memakai benda benda yang bisa disentuh dan dieksplor, misal puzzle lego, benda dengan tekstur berbeda beda.

Group setting untuk Reminiscence therapy.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan terapis dalam melakukan group setting:
Klien dengan minat atau pengalaman yang hampir sama. Namun group juga bisa memberikan pengalaman bervariasi, misal menceritakan budaya jika anggota group berasal dari suku atau negara yang berbeda.
Hindari melibatkan klien yang tidak bisa mengikuti topik, misal topik pengalaman saat SMA padahal ada anggota group yang tidak tamat SMP. Topik menceritakan tentang anak, padahat ada anggota group yang tidak memiliki anak.
Lebih dari 6-8 orang dalam satu group akan mengurangi efektifitas berbagi pengalaman.
Duduk dengan kursi bermeja atau meletakkan benda memorial di meja dapat membantu klien untuk bertahan di tempat duduk. Jaga lingkungan tetap tenang.
Berikan waktu yang sama untuk setiap anggota group bicara.
Jaga sesi 30-45 menit untuk menghindari overstimutasi atau kelelahan.
Bagaimana mengukur Efektifitas Therapy?
Efek dari reminiscence therapy dapat dievaluasi dengan beberapa cara, diantaranya dengan: Evatuasi metalui wawancara oteh profesional (psikiater, psikolog, perawat), ataupun penilaian menggunakan tool sesuai dengan setting awal dilakukan reminiscence seperti menggunakan barthel indeks, MMSE, Engangement scale, Geriatric depression scale.

Reminiscence therapy lebih dari sekedar menceritakan memori. Tapi kenyamanan, percakapan yang bermakna dan keeratan antara klien dengan terapis adalah hasil utama yang diharapkan dari proses reminiscence. Oleh karena itu, sebagai discharge planning untuk keluarga yang merawat klien lansia, ajarkan keluarga untuk metakukan reminiscence sederhana di rumah yaitu dengan mengajak ktien bernostaigia, mengenang cerita berkesan datam hidupnya dari masa ke masa.